< >

Makam Bertingkatpun Akhirnya Terendam Lumpur Lapindo

Rabu, 08 November 2006 19:06
Kapanlagi.com - Berbagai cara dilakukan warga Desa Mindi, Kecamatan Porong, Sidoarjo, untuk menyelamatkan asetnya dari terjangan lumpur, salah satunya dengan membangun makam umum bertingkat. Namun, cara inipun tidak bertahan lama, karena kini makam bertingkat itu sudah tenggelam oleh lumpur panas Lapindo Brantas Inc.

Makam bertingkat yang ada RT 12 RW 2 ini, dibangun di atas tanah seluas 3.000 M2 dan lebih tinggi empat meter dari makam semula yang berada di sebelahnya.

Kepala Kelurahan Mindi, Moch Ruchad mengemukakan, pembangunan makam bertingkat ini sesuai kesepakatan warga, khususnya RT 11 RW 2, yang menginginkan agar makam tetap berada di sekitar makam yang lama.

"Warga merasa keberatan jika makam ini dipindah jauh dari rumah warga, karena akan menyulitkan untuk proses pemakaman," paparnya.

Kini, setelah 46 hari makam bertingkat difungsikan, dua orang meninggal telah dimakamkan di makam baru itu. Namun saat ini, warga kembali resah, karena makam yang diharapkan dapat terhindar lumpur, kini telah terendam pula.

Saat ini warga berinisitaif untuk meninggikan kembali makam yang telah terendam, yaitu setinggi empat meter lagi dan berada lebih tinggi dari tanggul.

Ruchan mengaku, permintaan warga untuk peninggian makam lagi tampaknya sulit direalisasikan. Pasalnya, peninggian yang melebihi tingginya tanggul sangat sulit terealisasi.

"Saya sudah bicara dengan petugas dari Timnas --penanggulangan lumpur-- tentang keinginan warga untuk meninggikan kembali makam ini, namun petugas mengaku keberatan dengan permintaan itu," ucapnya.

Alasan keberatan ini dikarenakan, pembangunan makam bertingkat yang melebihi tanggul akan menghambat laju lumpur ke arah spill way (kolam pelimpah) dan lumpur dapat meluber ke Desa Jatirejo, rel KA dan Jalan Raya Porong.

Menurut Ruchad, mekanisme pencarian tempat makam baru, pihak kelurahan sudah menyerahkan kepada Tim Penyelenggara Pembangunan makam desa, dimana anggotanya merupakan para warga sendiri. Pihak kelurahan hanya akan menunggu hasil keputusan dan kemauan warga tentang masa depan makam.

Sementara itu, Pamong Lingkungan Desa Mindi, Achmad Kholil yang juga anggota tim pembangunan makam mengaku, dirinya berencana untuk mengumpulkan warga untuk kedua kali, guna mencari kata sepakat.

Pada pertemuan pertama beberapa waktu yang lalu, warga sulit untuk diajak bermusyawarah, bahkan cenderung ditanggapi dengan sikap emosional, sehingga pertemuan akan dilanjutkan lagi beberapa hari ke depan.

"Mudah-mudahan pada pertemuan kedua nanti dapat menghasilkan keputusan tentang keberadaan makam bagi warga Desa Mindi," tuturnya, berharap.

Radiasi

Sementara tower (menara) listrik tegangan tinggi yang berada di atas kolam penampungan lumpur Lapindo, kini telah memunculkan radiasi bagi beberapa operator excavator yang melakukan pengaliran luberan lumpur di sekitar jaringan kabel listrik.

Hal ini dikarenakan, kubangan luberan lumpur terus meninggi, sehingga jarak tower listrik semakin dekat.

Salah seorang operator ponton, Darmadji dikonfirmasi di lapangan, mengaku, karena tingginya kubangan luberan lumpur panas di dalam kolam penampungan seluas 450 hektar ini, dirinya mulai merasakan radiasi saat melintas di bawah aliran kabel listrik, sehingga membuat beberapa operator alat berat yang melakukan pekerjaan di bawah tiang atau tower listrik memilih mencari tempat aman.

"Kalau kita melintas di bawah jaringan listrik, mulai terasa bergetar, seperti ada medan magnet yang muncul. Kejadian ini, sangat terasa bila kita memegang atau berada di atas ponton," ungkapnya.

Informasi yang diterima di lapangan, munculnya radiasi karena tinggi bentangan kabel dari tower posisinya semakin dekat dengan luberan lumpur, sementara jarak maksimal kabel seharusnya berkisar antara 8 hingga 12 meter. Akibat tinggi lumpur yang mencapai 6-7 meter, membuat jarak posisi kabel semakin dekat, sehingga getaran radiasi bisa dirasakan semakin kuat. (*/lpk)