< >

Radiasi Pada Tower Listrik Lumpur, PLN Matikan Jaringan

Kamis, 09 November 2006 19:59
Kapanlagi.com - Menyusul terjadinya radiasi pada tower/menara listrik tegangan tinggi di sekitar kolam penampungan lumpur panas Lapindo Brantas Inc, Porong, Sidoarjo, PLN Distribusi Jawa Timur terpaksa mematikan jaringan kabel listrik setempat.

Jaringan listrik yang tidak difungsikan meliputi jaringan bagian bawah berkapasitas 70 KV dan jaringan atas berkapasitas 150 KV.

"Sejak sebulan lalu, kami telah memutus jaringan bagian bawah. Namun karena saat ini muncul radiasi, maka jaringan bagian atas juga kami matikan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Humas PLN Distribusi Jatim, Faisal Ashari, ketika dikonfirmasi dari Sidoarjo, Kamis.

Sebagai pengganti atas diputusnya jaringan kabel listrik, pasokan listrik bagi pelanggan yang berada di daerah Porong disuplai dari Gardu Induk (GI) yang ada di Tarik dan Buduran.

"Dengan kondisi saat ini, memang sulit untuk mempertahankan GI Porong. Jadi solusi sementara adalah pengalihan pasokan listrik bagi pelanggan Porong. Namun solusi ini juga memiliki dampak yaitu menurunnya kualitas pasokan listrik bagi pelanggan," paparnya.

Tentang kemungkinan direlokasi, dirinya mengaku pemikiran itu memang ada, namun untuk merelokasi gardu induk dan jaringan kabel tidaklah mudah, karena harus dilakukan kajian rute dengan biaya yang begitu besar.

"Kalau relokasi, mungkin setahun tidak selesai. Tapi kalau semburan lumpur itu tidak segera berhasil ditangani, bisa jadi relokasi GI dan jaringan kabel listrik akan kita lakukan. Hal ini dikarenakan kapasitas gardu Buduran dan Tarik hanyalah bersifat sementara," ujarnya.

Jaringan kabel listrik yang melintas di atas areal penampungan lumpur mulai menimbulkan radiasi, dikarenakan oleh jarak kabel dengan permukaan tanggul yang sudah melebihi ambang batas, yaitu minimal 10 meter. "Wajar saja kalau kabel jaringan listrik itu menimbulkan radiasi, karena jarak ketinggian kabel dengan permukaan tanah/lumpur sudah di bawah ambang batas minimal 10 meter," tuturnya.

Terjadinya radiasi ini diakui oleh salah seorang operator excavator penguatan tanggul lumpur, Budi Purwanto, yang sedang bertugas di sekitar tower listrik di Desa Jatirejo.

Ia mengaku, takut jika menjalankan excavator di sekitar tower listrik. Ketika mendekati tower ia mengaku seperti ada medan magnet yang menyentuh tubuhnya.

"Untuk pengadukan lumpur, saya cenderung berjalan menyisir rumah-rumah penduduk yang jauh dari tower. Kalau dekat tower, saya merasa tengkuk kepala saya merinding seperti ada medan magnet yang menarik," ungkapnya.

Informasi yang diterima di lapangan, munculnya radiasi karena panjang bentangan kabel dari tower posisinya semakin rendah dengan luberan lumpur, sementara jarak maksimal kabel seharusnya berkisar antara 8 hingga 12 meter.

Akibat tinggi lumpur yang mencapai 6-7 meter, membuat jarak posisi kabel semakin dekat, sehingga getaran radiasi semakin mudah dirasakan. (*/lpk)