Ada beberapa lapangan voli dan sepakbola di kota Banda Aceh yang berada di lokasi eks bencana tsunami hanya tempat bermain ternak sapi atau kambing.
Salah satu pejabat Dispora NAD, Lukfandi di Banda Aceh, Jumat (10/11), tidak membantah bahwa hingga saat ini prasarana olahraga yang dibangun dengan bantuan luar negeri itu belum termanfaatkan karena lokasi bangunan kebanyakan berada di areal eks bencana tsunami yang hingga kini penghuninya sebagian masih berada dibarak-barak dan ada juga bermukim di lokasi lain yang telah di tata.
"Karena bantuan tersebut dari awal memang diprogramkan dubangun di lokasi eks bencana tsunami, sehingga tidak bisa dipindahkan ketempat lain. Kita pernah mengusulkan untuk bisa dipindahkan tetapi United Nation Depelopment Project (UNDP) tidak mengizinkannya karena telah terprogram dari awal," katanya.
Adapun bantuan prasarana olahraga dari luar negeri yang disalurkan melalui UNDP tersebut yaitu sebanyak 2 lapangan basket, 62 lapangan voli dan 24 lapangan sepakbola yang tersebar di 12 kotamadya dan kabupaten yang terkena bencana tsunami.
Diakuinya, dirinya yang juga merupakan pembuat program olahraga di kantor Dispora belum mengetahui secara pasti tentang bantuan yang dijanjikan FIFA senilai Rp36 miliar untuk pembuatan lapangan sepakbola sintetis di daerahnya itu.
"Saya telah menanyakan kepada PSSI yaitu melalui Kaharuddinsyah dan mendapat jawaban, masalah itu ditanyakan saja pada Pengda PSSI setempat," katanya.
Pelaksana tugas Kadispora NAD, T. Rayuan Sukma membenarkan lapangan sepakbola sintetis itu belum dilaksanakan pembangunannya karena lokasi masih dipakai sebagai barak korban bencana tsunami yang arealnya seluas 12.000 meter sesuai dengan persyaratan dari FIFA.
Menyinggung tentang bantuan lainnya dari FIFA untuk stadion sepakbola di daerah bencana sebagian besar telah selesai dengan menghabiskan dana sebesar Rp50 miliar.
Diakui pula bahwa daerahnya melalui UNDP telah menerima bantuan 13.600 pasang sepatu merek Nike dengan tipe R 29 yang merupakan sepatu bola kualitas dunia untuk masyarakat Aceh.
"Sebagian sepatu itu telah didistribusikan pada klub di sekolah, klub sepakbola masyarakat dan klub sepakbola divisi di propinsi ini. Sekarang datang lagi 50.000 bola voli merek yang sama," kata Lukfandi yang ditugaskan Dispora NAD di UNDP.
Bantuan bola kaki sebanyak lima kontener itu akan diserahkan kepada masyarakat aceh dalam waktu dekat ini.
Sesmenpora, Prof. Toho Cholik Mutohir yang berkunjung ke daerah itu untuk meresmikan lintasan atletik sintetis sempat kaget ketika diinformasikan tentang penggunaan prasarana olahraga bantuan luar negeri yang belum optimal tersebut dan memerintahkan Kadispora untuk mengevaluasi dan sekaligus mencarikan solusinya.
"Prasarana olahraga sudah lengkap di Aceh ini, tinggal kemaun masyarakat dan pembina olahraga yang harus mempunyai inisiatif untuk menggunakannya," kata Toho.
Ia berharap dengan banyaknya perhatian dunia untuk membantu prasarana olahraga di Aceh ini akan menjadi perhatian kantor Menpora untuk membantu penataannya. (*/lpk)