Belanda Bantu Pemberantasan Penyakit Kronis di Aceh

Kapanlagi.com - Pemerintah dan masyarakat Belanda telah membantu upaya pemberantasan penyakit kronis seperti paru-paru (TBC) dan kusta di sejumlah wilayah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

"Program bantuan Belanda dalam upaya pemberantasan penyakit kronis di Aceh itu sudah lama berjalan dan hingga kini masih dilakukan," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NAD, dr H T Anjar Asmara, kepada ANTARA di Banda Aceh, Sabtu.

Ia menjelaskan upaya pencegahan yang didonasi pihak Belanda itu dengan melakukan pengobatan gratis dan mencari kasus-kasus terhadap penduduk yang secara ilmiah positif menderita penyakit kronis tersebut.

"Alhamdulillah, dengan adanya kerjasama antara jajaran kesehatan dan donasi Belanda itu maka kasus-kasus penyakit kronis telah banyak disembuhkan. Angka penderita TBC dan kusta tersebut setiap tahunnya berhasil kita turunkan," tambahnya.

Ia menjelaskan, penderita kusta yang sedang dan telah ditangani hingga akhir September 2006 itu sebanyak 326 kasus/pasien yang tersebar di sejumlah wilayah di provinsi ujung paling barat Indonesia ini.

Empat wilayah sudah dinyatakan bebas dari kasus kusta, yakni Kabupaten Aceh Tengah, Aceh Singkil, Bener Meriah dan Kota Sabang.

Anjar Asmara menyebutkan dari 326 kasus kusta hingga akhir September 2006 di NAD itu masing-masing sebanyak 57 kasus dari jumlah penduduk tercatat 507 ribu jiwa tersebut ditemukan di Kabupaten Pidie.

Kemudian Bireuen sebanyak 41 kasus dengan jumlah penduduk 354 ribu jiwa, selanjutnya Gayo Lues 27 kasus dari total penduduknya mencapai 80 ribu jiwa. Di Kabupaten Aceh Selatan terdapat 37 kasus dengan total penduduk 197 ribu jiwa, kata Kepala Dinas Ksehatan Provinsi NAD.

"Kita berharap dengan peran serta masyarakat dan dukungan Belanda dan jajaran kesehatan maka kasus-kasus kusta dan TBC itu setiap tahunnya terus menurun. Kami terus berupaya penderita kusta tidak sampai menjadi cacat," tambahnya.

Ketika ditanya tentang banyaknya penderita kusta yang kini menjadi pengemis di sejumlah persimpangan jalan di Kota Banda Aceh, Anjar Asmara, menyatakan mereka itu bukan lagi penderita tapi mantan penyandang kusta.

"Para mantan penderita kusta itu sudah sembuh dari penyakitnya meski terlihat dari tubuh mereka ada luka dan cacat, tapi tidak lagi menyebarkan virus kusta," tambahnya.

Karena, ujar Anjar, seorang penderita kusta itu secara ilmiah (ilmu kedokteran) tidak akan tahan dengan cuaca panas.

"Kenyataannya, para mantan penderita kusta yang kini menjadi pengemis di persimpangan jalan itu tidak pernah mengeluh dengan teriknya panas," kata dia. (*/rit)

©2003-2007 KapanLagi.com