Advertisement
 
Rabu, 15 November 2006 09:14
Hujan Belum Akan Longsorkan Gundukan Material Vulkanik Merapi
Kapanlagi.com - Hujan yang mulai mengguyur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya dalam sepekan terakhir belum akan melongsorkan gundukan material vulkanik Gunung Merapi yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan ancaman banjir lahar dingin.

"Curah hujan masih belum tinggi. Material vulkanik yang dimuntahkan gunung berapi selama erupsi Merapi beberapa bulan lalu belum `jenuh`. Gundukannya masih relatif kuat," kata Kepala Bidang Pertamnbangan dan Energi Dinas Pengairan Pertambangan dan Penanggulangan Bencana Alam Kabupaten Sleman, Drs Urip Bahagia, Rabu.

Ia mengatakan, untuk meruntuhkan gundukan material vulkanik Merapi tersebut diperlukan curah hujan tinggi dan terus menerus. Sekarang masih belum berbahaya, tetapi ke depan antisipasi harus dilakukan terutama pemahaman masyarakat di lereng Gunung Merapi untuk terus waspada terhadap ancaman banjir lahar dingin.

"Ada sejumlah titik rawan yang harus diwaspadai masyarakat setempat, antara lain Kaliadem khususnya di atas gedung bundar yang terdapat gundukan material yang bisa longsor setiap saat," katanya.

Selain itu, di Dusun Jambu Desa Kepuharjo terdapat tikungan sungai serta kawasan Sindumartani Ngemplak khususnya di delta sungai yang masih dihuni sekitar sebelas kepala keluarga (KK).

"Titik rawan lannya adalah di Krebet yang terletak di perbatasan Ngemplak - Kalasan di mana terdapat pertemuan Kali Gendol dan Opak," katanya.

Menurut dia, pihaknya bersama instansi terkait pekan lalu memantau kesiapan masyarakat menghadapi ancaman banjir lahar dingin.

"Penduduk setempat sejauh ini sudah siap, mereka memahami titik kumpul dan rute menuju barak pengungsian. Sama seperti evakuasi saat erupsi Gunung Merapi beberapa bulan lalu," katanya.

Namun ia mengingatkan ada beberapa peralatan yang masih perlu ditambah untuk mengantisipasi ancaman banjir lahar dingin, misalnya alat komunikasi dan lampu di titik-titik rawan.

"Saat ini di titik-titik rawan itu belum terpasang lampu," katanya.

Sementara itu, Kordinator Taruna Siaga Bencana Kecamatan Cangkringan, Sleman, Nartukiyo mengatakan, selain mempersiapkan alat penanggulangan bencana, pihaknya saat ini terus memberikan informasi kepada pengunjung obyek wisata Kaliadem.

"Pengunjung obyek wisata Kaliadem pascalebaran bisa mencapai 200 orang setiap hari, masih cukup tinggi. Karena itu, pengarahan penting dilakukan agar mereka menyadari bahwa ancaman banjir lahar dingin bisa datang sewaktu-waktu," katanya. (*/rit)









 

©2003-2007 KapanLagi.com