< >

KPK dan UIN Sepakat Berantas Korupsi

Selasa, 21 November 2006 15:12
Kapanlagi.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah sepakat bekerjasama memberantas korupsi dengan menandatangani Nota Kesepahaman tentang Kerjasama Pencegahan Tindak Pidana Korupsi.

"Kerjasama dalam memberantas korupsi akan terus dilakukan oleh KPK, karena itu KPK akan merangkul siapa saja yang mau memberantas korupsi," kata Ketua KPK, Taufiequrachman Ruki, setelah menandatangani Nota Kesepahaman di Kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Selasa.

Taufieq mengatakan, sekian tahun di KPK masih tetap merasa seperti "Alien".

Dia masih merasa berdiri sendiri, karena itu kerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) selalu disambut baik.

Menurut dia, masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap korupsi sebagai hal yang biasa.

"Saya heran ada orang yang masih menganggap korupsi sebagai hal yang biasa. Padahal, perang terhadap korupsi bukan perang yang `kecil`," kata Taufieq.

Butir-butir kerjasama dari Nota Kesepahaman antara KPK dan UIN Syarif Hidayatullah mencakup tiga hal yaitu penyelenggaraan pendidikan antikorupsi, advokasi dan kampanye pendidikan antikorupsi dan pengkajian riset.

Sementara itu, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Azyumardi Azra mengatakan, dalam memberantas korupsi masih banyak mengalami kendala.

"Perlu ada `political will` yang kuat untuk memberantas korupsi," ujar dia.

Menurut dia, masyarakat sendiri yang harus selalu mendesak agar pemberantasan korupsi berjalan.

Dia mengatakan saat ini tidak ada konsistensi para penegak hukum dalam memberantas korupsi.

Prof Azyumardi Azra juga mengatakan tidak terjadi reformasi birokrasi dalam kepegawaian, kalaupun ada reformasi hanya sepotong-sepotong.

Dia memberikan gambaran tidak adanya reformasi rekruitmen dan promosi dalam kepegawaian. Dalam kepegawaian seharusnya ada "reward dan punishment" untuk mencegah korupsi.

Kendala lain menurut dia, tidak adanya integritas personal yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Dan yang terakhir, dia menyebutkan, perlu adanya kesalehan personal dan kesalehan sosial di setiap individu. (*/rit)