"Berdasarkan data statistik, laju pertumbuhan ekonomi Babel berfluktuasi pada periode 2001-2005. Pada tahun 2005, PDRB tanpa migas sebesar 4,50%, kemudian setelah migas dieksplorasi tahun 2003 PDRB naik mencapai 11,80%," ujuar Ketua DPRD Babel H Munir Saleh di Pangkalpinang, Selasa (21/11).
Seiring turunnya produksi migas yang dieksplorasi, pada tahun 2005 laju pertumbuhan PDRB dengan migas menunjukkan 3,25%, ini berarti, banyak sektor- sektor potensial mesti digarap optimal dalam upaya memberikan kontribusi memadai bagi pertumbuhan ekonomi.
Menurut dia, Babel memiliki potensi pertanian, perkebunan, kelautan dan perikanan yang sangat besar namun hingga kini belum tergali dengan baik dan benar. Padahal apabila semua potensi andalan digarap secara baik akan mampu memberikan kontribusi bagi peningkatkan kesejahteraan rakyatnya, ujarnya.
Ia menjelaskan, dektor pariwisata belum dikelola dengan baik seiring masih banyaknya aspek-aspek penunjang usaha pariwisata yang belum berjalan dengan semestinya. Tapi kami optimis pemprov akan menata semua sektor ekonomi secara baik dan profesional.
"Hal itu sangat kami tekankan karena itulah potensi yang ada di provinsi ini. Kenapa tidak dikembangkan secara maksimal dan justru pertambangan timah yang telah merusak lingkungan yang banyak menyita perhatian kita semua," ujarnya.
Rempah Rempah
Munir saleh menjelaskan, Bangka Belitung sejak ratusan tahun lampau dikenal dengan hasil-hasil pertaniannya terutama rempah-rempah dan lada putihnya, memiliki kualitas tanah yang subur, lautanya yang luas dan masyarakatnya agraris hidup dari sektor pertanian.
"Kenapa justru sekarang potensi pertanian diabaikan atau ditinggalkan.Padahal negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika saja masih mebngandalkan sektor pertanian karena selain memiliki nilai ekonomi tinggi juga ramah lingkungan," ujarnya.
Tetapi kenapa kita yang memang petani justru lemah syahwat mengembangkan pertanian, sehingga sekarang tidak heran lagi, kita disuguhi hasil-hasil pertanian dari negara-negara maju yang tidak berkultur agraris.
Menurut dia, kita sering makan apel, buah apelnyan orang Amerika dan Australia, kita sering makan jeruk dan anggur, buahnya jeruk dan anggur orang Eropa dan China dan masih banyak lagi hasil dan produk pertaniaan lainnya yang berasal dari hasil import, karena memang kualitasnya sangat baik.
"Semua itu karena motivasi dan kreativitas dari pemerintah, stakeholders dan para petani disana cukup maju, Mereka selalu mengembangkan teknologi dan SDM yang memadai, sementara kita masih jauh tertinggal, dari segi teknologi dan SDM," demikian Munir Saleh. (*/lpk)