Seperti yang disampaikan Komandan Misi Pemulangan Orangutan dari Thailand, Letnan Kolonel (Pnb) Ismet Saleh Jumat pekan lalu (17/11/06), seluruh hewan jenis Primata yang dilindungi itu dibawa pulang ke Indonesia dengan menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules dari Skuadron 31 Lanud Halim Perdanakusuma.
Pemulangan ke-48 orangutan yang diselundupkan ke Thailand dari Indonesia itu telah mengalami beberapa kali penundaan. Semula direncanakan pemulangan orangutan-orangutan itu dilakukan pada 22 September dan akhir September 2006. Namun, karena situasi politik Thailand yang tidak memungkinkan dan kondisi cuaca yang buruk di kawasan Kalimantan, proses pemulangannya menjadi tertunda-tunda.
Ia mengatakan, direncanakan pesawat C-130 Hercules diberangkatkan pada 21 November 2006 dan diharapkan pada 22 November dini hari ke-48 ekor orangutan itu dapat langsung diangkut ke pesawat dan langsung diberangkatkan ke Indonesia pada hari yang sama.
Untuk menjaga kondisi ke-48 orangutan agar tidak stress, maka pesawat yang digunakan telah dilengkapi standar pengamanan `bio safety` dan `bio security` termasuk peralatan antibiotik dan lain-lain, kata Ismet.
"Segala hal yang berkaitan dengan pemulangan ke-48 orangutan itu telah dikomunikasikan antara pihak KBRI dan Pemerintah Thailand sehingga diharapkan tidak ada lagi penundaan," katanya.
Profauna Indonesia mencatat 54 ekor orangutan Indonesia disita Pemerintah Thailand dari Safari World negara itu setelah kedua pemerintah menyepakati perihal repatriasi hewan yang dilindungi itu pada 21 April lalu.
Sementara itu, terkait dengan pemulangan ke-48 orangutan itu, Yayasan Penyelamatan Orang Utan Borneo (The Borneo Orangutan Survival/BOS Foundation) menyambut gembira pengembalian tersebut setelah berbagai pihak berjuang keras selama tiga tahun.
Seperti disebutkan dalam siaran pers yayasan itu, keberhasilan memulangkan para orang utan itu tidak terlepas dari kerjasama berbagai pihak baik, termasuk lembaga swadaya masyarakat (NGO) dalam dan luar negeri serta Departemen Kehutanan RI.
Direktur Eksekutif Yayasan BOS, Aldrianto Priadjati, menengarai bayi-bayi orangutan dan satwa langka Indonesia lainnya yang menjadi korban kebakaran hutan Kalimantan beberapa bulan terakhir rentan terhadap aksi penyelundupan ke luar Indonesia.
"Apalagi staf lapangan Yayasan BOS yang bertugas memadamkan api dan menyelamatkan satwa di kawasan hutan gambut Mawas, Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah menemukan sejumlah orangutan dan satwa liar lainnya berusaha menyelamatkan diri dan keluar dari hutan."
"Beberapa di antaranya terkulai lemas karena asap," katanya dalam pernyataan pers yayasan tersebut. (*/rit)








