< >

Bulutangkis Kembali Jadi Tumpuan Harapan Indonesia

Kamis, 23 November 2006 05:15
Kapanlagi.com - Kendati prestasi pebulutangkis Indonesia saat ini sedang menurun, tak dapat disangkal bahwa cabang olahraga yang sejak lama mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional itu tetap menjadi andalan.

Begitu pula adanya pada parhelatan olahraga terbesar se-Asia, Asian Games yang secara resmi akan dibuka 1 Desember mendatang.

Dengan jumlah kontingen 131 atlet yang akan mengikuti 20 cabang olahraga, KONI Pusat menargetkan empat medali emas, dengan 16 pemain bulutangkis di dalamnya tak luput dari kewajiban mendulang medali.

Jika menilik hasil dua Asian Games terdahulu, harapan tersebut tidaklah terlalu berlebihan. Bulutangkis tak pernah absen menyumbang medali. Sejak Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta, bulutangkis selalu menyumbang medali emas untuk tim Indonesia, kecuali pada AG X (1986) di Seoul, dan XI (1990) di Bangkok yang emasnya diborong China dan Korea.

Pada Asian Games 1998 di Bangkok, Thailand, Indonesia meraih dua medali emas melalui nomor beregu putra dan ganda putra Ricky Subagdja/Rexy Mainaky.

Ditambah dua perak dari Hendrawan dan ganda putri Elyza Nathanael/Deyana Lomban serta dua perunggu dari beregu putri dan ganda campuran Tri Kusharjanto/Minarti Timur.

Sementara pada Asian Games Busan, Korea, empat tahun kemudian, bulutangkis hanya menyumbang satu medali emas yang diraih oleh Taufik Hidayat, ditambah satu perak melalui beregu putra dan tiga perunggu dari tunggal putra Hendrawan, ganda putra Halim Haryanto/Tri Kusjarjanto serta ganda campuran Nova Widianto/Vita Marissa.

Kali ini, ketika pesta olahraga empat-tahunan itu datang lagi, bulutangkis kembali dituntut untuk menyumbangkan medali emas.

Di Doha, cabang olahraga tepok bulu itu diharapkan menyumbang dua dari empat medali emas yang ditargetkan diperoleh kontingen Indonesia pada Asian Games XV itu.

Dilihat dari materi pemain, target tersebut masuk akal, dengan skuad yang diperkuat pemain-pemain bintang seperti ganda campuran peringkat satu dunia Nova Widianto/Lilyana Natsir dan dua ganda putra yang berada dalam 10 peringkat teratas dunia yakni ranking lima Markis Kido/Hendra Setiawan dan nomor delapan dunia Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto.

Ditambah lagi juara Olimpiade Athena Taufik Hidayat, yang meski belakangan prestasinya kurang menggembirakan, masih menjadi salah satu pemain yang ditakuti lawan-lawannya.

Dua Ganda

Meski demikian, tidak mudah bagi mereka mewujudkan harapan tersebut, apalagi belakangan prestasi pemain-pemain terbaik di Pelatnas itu menunjukkan grafik yang kurang stabil.

Dua ganda diharapkan mampu memenuhi target dua medali emas tersebut, yakni pasangan campuran Nova/Lilyana dan ganda putra Markis/Hendra.

"Mereka yang paling berpeluang karena prestasi mereka selama ini yang paling stabil," ujar Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PB PBSI Rudy Hartono.

Dengan posisi mereka sebagai peringkat satu dunia dan telah mengumpulkan empat gelar serta tiga kali menjadi runner-up tahun ini, juara dunia 2005 Nova/Lilyana pantas diharapkan menyumbang satu medali emas melalui nomor perorangan.

Begitu pula pasangan Markis/Hendra yang telah memenangi gelar Hong Kong dan China Terbuka, runner-up Indonesia Terbuka serta semifinalis Korea Terbuka.

Dengan pengalaman mereka duakali berlaga di SEA Games dan berhasil menyumbang emas beregu (2003) dan emas perorangan (2005), meski baru pertamakali tampil di Asian Games, Markis/Hendra dinilai mampu memikul beban tersebut.

Tentu saja peluang juga terbuka bagi juara Asian Games terdahulu Taufik Hidayat yang saat ini menduduki peringkat 12 dunia serta ganda putra Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto yang pada 2004 berhasil meraup empat gelar meski setelah itu belum meraih satu kemenanganpun.

China Terberat

Bukan cerita baru jika negara bulutangkis terkuat dunia, China menjadi saingan terberat dalam perebutan medali di Asian Games.

Negara tuan rumah Olimpiade 2008 itu, sepanjang tahun selalu mendominasi berbagai kejuaraan, bahkan tiga piala lambang supremasi beregu bulutangkis, Piala Thomas, Uber dan Sudirman seluruhnya dalam genggaman Negeri Tirai Bambu tersebut.

Meski kali ini pelatih Li Yongbo memilih mengirim pemain-pemain muda ketimbang mereka yang sudah berpengalaman ke Doha, China tetaplah menjadi ancaman terbesar, apalagi mereka bertekad untuk memperbaiki raihan dua medali emas yang didapat di Busan empat tahun lalu melalui beregu dan tunggal putri.

Disamping China, terdapat Malaysia yang tahun ini bertekad merebut medali emas, setelah sejak 1974 mereka paceklik medali emas. Terakhir Malaysia meraih emas di Asian Games 1970 yang disumbangkan oleh Punch Gunalan melalui nomor tunggal putra dan ganda.

Korea juga patut diperhitungkan, meraih tiga emas pada Asian Games 2002 melalui sektor ganda, mereka tidak pernah absen menyumbang emas untuk negaranya sejak 1982.

Beberapa negara yang berhasil menempatkan pemainnya menduduki ranking atas pun perlu diwaspadai seperti Jepang dan Thailand.

Bulutangkis mengirim 16 pemain sesuai kuota yang ditetapkan panitia yang terdiri atas delapan putra: Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, Luluk Hadiyanto, Alvent Yulianto, Markis Kido, Hendra Setiawan dan Nova Widianto, serta delapan putri: Adrianti Firdasari, Fransisca Ratnasari, Pia Zebadiah, Jo Novita, Greysia Polii, Lita Nurlita, Vita Marissa, dan Lilyana Natsir.

Mereka akan bermain pada nomor beregu dan perorangan. (*/lpk)