Iran "dengan keras mengutuk gelombang pemboman di Kota Sadr, dan menganggapnya sebagai aksi teror dan kejam yang dilakukan sementara tentara Amerika berpangku-tangan", kata jurubicara Kementerian Luar Negeri Iran Mohammad Ali Hosseini sebagaimana dikutip oleh kantor berita resmi Iran tersebut.
"Pendudukan dan ketidak-amanan yang berasal dari itu telah mengakibatkan kerugian terus-menerus terhadap rakyat Irak, dan mereka tak memiliki pilihan lain kecuali membayar harganya yang tak manusiawi," katanya.
Dalam serangan yang merenggut paling banyak korban jiwa di Baghdad sejak perang guna menggulingkan Saddam Hussein, gerilyawan menewaskan sebanyak 202 orang Kamis dan melukai 256 orang lagi dalam serangkaian pemboman mobil di wilayah Syiah, Kota Sadr.
Serangan tersebut, yang melibatkan setidak empat bom mobil, membuat Kementerian Dalam Negeri mengumumkan larangan keluar rumah untuk waktu yang tak ditentukan di ibukota Irak, Baghdad.
Pembunuhan itu terjadi sebelum Presiden Irak Jalal Talabani melakukan perjalanan ke Iran, Sabtu, untuk mengadakan pembicaraan dengan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, dalam upaya memperoleh bantuan dari tetangga di sebelah timur Irak tersebut dalam menstabilkan Negara 1001 Malam itu.
Itu merupakan kunjungan kedua Talabani ke Republik Islam Iran, yang dituduh oleh Amerika Serikat mencampuri dan menghasut kerusuhan antar-aliran di Irak --tuduhan yang juga dilontarkan Washington kepada Suriah.
Sementara itu Gedung Putih, Jumat, mengutuk kekerasan paling akhir di Irak sebagai tindakan "tercela" sementara menyatakan kembali bahwa Presiden George W. Bush akan bertemu dengan pemimpin Irak Nuri Al-Maliki pada 29-30 November di Jordania.
"Aksi kekerasan kejam ini adalah perbuatan tercela. Sungguh membuat gusar bahwa pelaku teror ini mengincar warga tak berdosa dalam upaya kurang ajar guna menggulingkan pemerintah yang terpilih secara demokratis. Pembunuh ini takkan berhasil," kata jurubicara Gedung Putih Scott Stanzel.
Puluhan orang juga dikhawatirkan tewas saat anggota milisi melancarkan serangan pembalasan terhadap beberapa tempat ibadah di Baghdad setelah pemboman di kota Syiah tersebut.
Secara terpisah tiga serangan bom di kota Tal Afar di bagian utara Irak menewaskan 23 orang dan melukai 45 orang lagi Jumat, kata polisi.
Stanzel mengatakan lonjakan serangan mematikan itu takkan menggelincirkan pertemuan Bush di Amman dengan Al-Maliki, yang diumumkan dua hari lalu.
"Pengamanan Baghdad dan pengendalian kekerasan akan menjadi prioritas utama ketika Presiden Bush bertemu dengan Perdana Menteri Al-Maliki beberapa hari lagi," katanya.
Beberapa jam sebelum serangan terhadap tempat ibadah Sunni, kelompok politik tokoh Syiah Moqtada As-Sadr mengancam akan keluar dari pemerintah persatuan jika Al-Maliki bertemu dengan Bush.
Ketika ditanya apakah komentarnya dimaksudkan pertemuan akan tetap berlangsung kendati ada ancaman dari kelompok As-Sadr, Stanzel berkata,"Benar!" (*/cax)