< >

Pemberontak Chad Lancarkan Serangan Baru

Sabtu, 25 November 2006 16:28
Kapanlagi.com - Pemberontak Chad memasuki bagian timur negeri itu Jumat, serangan kedua mereka dalam satu bulan terhadap Presiden Idriss Deby Itno, kata pemimpin kelompok pemberontak UFDD, saat mengkonfirmasi komentar sebelumnya dari para pejabat Perancis dan Chad.

"Kami hari ini melancarkan beberapa serangan ke dalam provinsi Ouaddai, kami berada di wilayah Goz Beida, Adre (dan) Ade," kata Jenderal Nouri, pemimpin pemberontak Persatuan Pasukan bagi Pembangunan dan Demokrasi (UFDD), melalui telefon satelit.

"Untuk saat ini, kami hanya melakukan patroli tapi kami akan bergerak untuk melancarkan serangan dalam beberapa hari mendatang," kata Jenderal itu.

Sebelumnya, Kedutaan Besar Perancis di N`Djamena mengatakan "banyak pemberontak" telah memasuki Ouaddai, dan "bergerak ke arah barat".

Satu sumber militer Chad mengatakan iring-iringan pemberontak tersebut, yang terdiri atas 80 kendaraan, telah terlihat Jumat sore pada jarak kurang dari 50 kilometer dari perbatasan Sudan. "Untuk saat ini, kami sedang memantau mereka," kata sumber itu.

Sementara itu pesawat militer Perancis yang berpangkalan di N`Djamena dapat mengamati iring-iringan tersebut, kata satu sumber militer di Paris, sementara saksimata melaporkan iring-iringan itu telah bergerak ke arah barat lebih ke dalam wilayah Chad.

Tak ada laporan mengenai bentrokan antara pemberontak dan pasukan pemerintah.

UFDD, aliansi beberapa faksi pemberontak yang terbentuk belum lama ini, secara singkat menduduki dua kota kecil di bagian timur Chad pada akhir Oktober, sebelum mundur ke perbatasan Sudan dan Republik Afrika Tengah (CAR).

Bentrokan telah merenggut banyak korban jiwa di kedua pihak, termasuk wakil pemimpin Angkatan Darat Chad, Jenderal Moussa Sougui.

N`Djamena telah menuduh tetangganya, Sudan, membantu pemberontak, tuduhan yang telah dibantah oleh Khartoum. Rejim Arab di Khartoum malah menuduh pemerintah di N`Djamena mendukung pemberontak kulit hitam Afrika di Darfur.

Serangan pemberontak tersebut membuat organisasi kemanusiaan, Jumat, menghentikan operasi di bagian timur Chad, bersiap menghadapi arus baru pengungsi dari Darfur dan membantu korban kekerasan antar-masyarakat Chad.

"Semua personil kemanusiaan telah kembali ke pangkalan," kata Helene Caux, wanita jurubicara bagi Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR).

PBB memperkirakan lebih dari 200.000 pengungsi dari Sudan berada di Chad dan lebih dari 50.000 warga Chad telah kehilangan tempat tinggal.

Kedutaan Besar Perancis di ibukota Chad telah menyarankan 1.500 warganegaranya yang saat ini berada di Chad agar menghindari semua gerakan yang tak perlu di seluruh negeri itu.

Seruan AU

Uni Afrika (AU) menyeru Sudan dan Chad agar memelihara "dialog permanen" dan menyampaikan "keprihatinannya" mengenai ketegangan yang meningkat.

Dalam pertemuan Kamis, Dewan Keamanan dan Perdamaian AU "menyampaikan keprihatinannya mengenai peristiwa yang dilaporkan di sepanjang perbatasan bersama mereka dan memburuknya hubungan antara kedua negara tersebut", demikian antara lain isi suatu pernyataan orgasisasi regional itu.

Pemerintah Chad pada 13 November mengumumkan keadaan darurat bagi seluruh negeri tersebut dalam upaya menghentikan bentrokan antara kelompok Arab dan non-Arab yang, katanya, telah menewaskan lebih dari 400 orang dan membuat ribuan orang lagi kehilangan tempat tinggal.

Keadaan darurat itu diperpanjang Kamis sampai Mei 2007, tindakan yang dikecam oleh oposisi dan media non-pemerintah beberapa bulan sebelum pemilihan umum. (*/cax)