< >

Mantan Agen KBG Tuduh Putin Membunuhnya

Sabtu, 25 November 2006 14:17
Kapanlagi.com - Mantan mata-mata dinas rahasia Soviet KGB menuduh Vladimir Putin atas kematiannya dalam pernyataan dibacakan sesudah kematian lambatnya akibat keracunan radiasi hari Jumat (24/11/06), tapi presiden Rusia itu membantah tuduhan tersebut dan menyatakannya hasutan politik.

Badan Perlindungan Kesehatan Inggris menyatakan polonium 210, isotop radioaktif, ditemukan di tubuh Alexander Litvinenko, yang meninggal Kamis malam (23/11/06) di rumah sakit London sesudah terbaring sakit tiga pekan.

Polisi mengaji cara racun radioaktif itu masuk ke badannya dan pakar mencari jejaknya di beberapa tempat.

"Anda mungkin berhasil membungkam satu orang, tapi gelombang protes dari seluruh dunia akan bergema, Pak Putin, di telinga Anda selama sisa hidup Anda," kata bekas mata-mata itu dalam pernyataannya, yang dibacakan temannya di luar rumah sakit, tempat ia meninggal.

"Semoga Tuhan memaafkan yang Anda lakukan, tak hanya kepada saya, tapi kepada Rusia tercinta dan rakyatnya," katanya.

Tuduhan mendiang bahwa Moskow mengirim agen untuk membunuhnya, dalam kemungkinan pembunuhan pertama semacam itu di Barat sejak Perang Dingin, membayangi Putin pada temu puncak Eropa Bersatu di Helsinki.

Putin menyatakan tidak ada bukti keterlibatan Kremlin.

"Sangat disayangkan bahwa sesuatu yang menyedihkan, seperti, kematian pun dipakai untuk penghasutan politik," kata Putin, "Saya harap petinggi Inggris tidak ikut memicu skandal politik. Itu tidak berkaitan dengan kenyataan."

Departemen Luar Negeri Inggris menyatakan sudah mengangkat kematian Litvinenko kepada Moskwa dan menganggapnya soal serius.

Litvinenko ialah satu dari sekelompok lawan Putin, yang bercokol di London, termasuk hartawan Boris Berezovsky dan pemberontak Chechen.

Dr Andrea Sella, dosen kimia di Universitas Kolese London, mengatakan kepada kantor berita Inggris Reuters bahwa polonium 210 ialah zat terlangka di planet ini dan hanya sedikit yang bisa mendapatkannya.

"Ini bukan pembunuhan acak. Ini bukan alat pilihan kelompok amatir. Mereka mempunyai sumber serius di belakangnya," katanya.

Bapaknya, Walter, yang menangis di luar rumah sakit, mengatakan, "Anak saya meninggal kemarin. Ia dibunuh oleh bom nuklir kecil, sangat kecil."

Litvinenko, warganegara Inggris sejak bulan lalu, jatuh sakit 1 November sesudah bertemu dengan bekas mata-mata lain Rusia di hotel London dan seorang cendekiawan Italia di warung makan sushi (makanan Jepang) di tengah kota.

Mantan mata-mata Rusia itu muncul di Moskow untuk mengakui bahwa ia menemui Litvinenko di hotel London dengan dua orang lain Rusia pada hari ia tiba-tiba jatuh sakit.

Laki-laki itu, Andrei Lugovoy, mengatakan kepada koran Rusia bahwa mereka membicarakan "usaha".

Lugovoy menemui diplomat Inggris di Moskwa pada Kamis dan mengatakan akan menjawab setiap pertanyaan polisi tentang masalah itu.

Polisi anti-teror Inggris, yang menyelidiki perkara itu, menyatakan petugas bisa pergi ke Rusia untuk berbicara dengannya.

Akibat diplomatik urusan itu sulit diramalkan.

Negara Eropa bergantung pada Rusia pimpinan Putin dalam gas alam dan menanam modal besar di perusahaan minyak di sana.

Putin merupakan sekutu Barat melawan Islam garis keras sejak serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat.

Tetapi hubungan itu menegang beberapa tahun terahir akibat tuduhan pemerintah Barat bahwa Moskwa jatuh ke kesewenang-wenangan. (*/rit)


BERITA TERKAIT