Pekan depan, partai komunis yang berkuasa di negara bagian Bengal Barat, berencana memperkenalkan undang-undang yang melarang riksaw di Kolkata, kota dengan 13 juta penduduk yang semakin dikenal sebagai pusat teknologi tinggi dan pusat perbelanjaan megah, kedai-kedai kopi masa kini dan bar.
"Moda transportasi yang tidak manusiawi ini seharusnya sudah dihentikan bertahun-tahun lalu," kata walikota dari partai komunis, Bikash Ranjan Bhattacharya.
"Tidak dapat dibayangkan, seseorang berpeluh dan terbebani karena mengangkut orang lain," katanya.
Pembicaraan untuk mengakhiri moda transportasi murah dan mudah itu telah berlangsung bertahun-tahun, namun pemerintah negara bagian Bengal Barat mengatakan keputusan yang terakhir adalah terkait dengan rencana mengubah undang-undang Hackney-carriage tentang kendaraan tanpa mesin.
"Undang-undang itu akan ditetapkan di hadapan parlemen pada pekan mendatang," kata menteri transportasi negara bagian Bengal Barat, Subhas Chakravarty.
Dia mengemukakan, riksaw, becak yang ditarik tangan, tidak cocok dengan rencana tata kota.
Partai Front Kiri menguasai sebagian besar dari 294 kursi di parlemen.
Namun, pengumuman itu meresahkan para penarik riksaw, kendaraan yang diabadikan sebagai lambang Kolkata dalam novel "City of Joy" karya Dominique Lapierre.
Kantor walikota menyebut terdapat 5.937 riksaw resmi, namun para anggota parlemen menyebut sedikit-dikitnya terdapat 40 ribu riksaw.
Para penarik riksaw yang punya sebutan "manusia kuda", khawatir bagaimana membiayai hidup jika larangan itu diberlakukan.
"Menjadi penarik riksaw tidak lebih rendah dibanding menjadi buruh tambang atau petani," kata Somen Mitra, pemimpin serikat penarik riksaw Kolkata.
Dia mengatakan, para penarik riksaw harus mendapat tawaran perjanjian perbaikan yang layak sehingga mereka punya mata pencaharian setelah larangan riksaw diberlakukan.
Para penarik riksaw rata-rata mendapat 100 rupee (sekitar Rp20 ribu) per hari. Sebagian besar dari mereka tinggal di pinggir jalan.
Mitra mengatakan, sebanyak-anyaknya empat penarik secara bergiliran mengoperasikan satu riksaw setiap hari. Mereka setiap hari menyerahkan sebagian besar pendapatan sebagai setoran untuk pemilik riksaw.
"Kami tersenyum setiap kali pengguna memanggil dengan sebutan `manusia kuda`. Pemerintah akan menehilangkan senyum kami jika riksaw di larang," kata seorang penarik riksaw, Aktar Ali (20).
"Kami tidak bisa apa-apa lagi jika riksaw dilarang. Kami akan kelaparan," kata Rakib Hussein yang sudah jadi penarik riksaw selama 15 tahun.
Penduduk Kolkata yang menggunakan riksaw untuk tujuan jarak dekat menyebut larangan itu juga akan merugikan mereka.
"Riksaw adalah moda transport yang cocok untuk jarak dekat di jalanan sempit, khususnya saat musim hujan, di mana taksi dan riksaw bermesin tidak mau mengantar," kata Pallabi Roy, (25) yang menggunakan jasa riksaw untuk mengantar anaknya ke sekolah.
Para anggota parlemen mengatakan akan membahas perjanjian perbaikan untuk para penarik riksaw.
Walikota Bhattacharya mengatakan pihaknya sedang memikirkan penggantian riksaw tenaga manusia dengan riksaw sepeda kayuh atau riksaw bermesin.
Namun, dia tidak menyebut pemerintah akan memberikan riksaw jenis baru itu kepada para penarik riksaw.
Pada 1996, pemerintah negara bagian memberlakukan larangan riksaw tenaga manusia, namun kemudian dicabut setelah terjadi unjuk rasa besar-besaran.
Setahun kemudian, pemerintah menawarkan 7 ribu rupee untuk setiap riksaw yang diserahkan, namun tidak ada peminat.
Di negara tetangga mereka, Republik Rakyat Cina, riksaw dilarang sejak 1949, saat komunis mengambil alih kekuasaan.
Riksaw diperkenalkan di Kolkata oleh para saudagar Cina di akhir abad ke-19. (*/rit)