< >

Pemilihan Presiden Ekuador, Tokoh Kiri Rafael Correa Unggul

Selasa, 28 November 2006 10:56
Kapanlagi.com - Tokoh kiri Ekuador Rafael Correa, pengagum Presiden Venezuela Hugo Chavez, memimpin menuju kemenangan sesudah pemilihan umum hari Minggu sesudah menjanjikan perbaikan luas di negara goyah pegunungan Andez itu.

Kemenangan bagi Correa membuatnya presiden kedelapan pada hanya 10 tahun dan memperkuat dorongan Chavez menantang pengaruh Amerika Serikat di Amerika Latin dengan memperkokoh persekutuan pemimpin beraliran sayap kiri.

Ekonom didikan Amerika Serikat itu mencemaskan Wall Street dan Washington, kata Correa hari Senin, saat suara menunjukan dukunagn luas untuk usulnya, termasuk perubahan utang luar negeri, tentangan pada perjanjian perdagangan bebas dan penulisan kembali undang-undang dasar.

"Rakyat memberi kami amanat jelas, dengan jumlah kedua terbesar dalam 30 tahun demokrasi," kata Correa kepada wartawan dirumah tropikanya di kota Guayaquil. "Kami ingin perbaikan mendalam di bidang politik," katanya.

Hasil sementara pemilihan umum pada tengah hari Senin menunjukkan Correa mendapatkan 68% suara, sedangkan pesaing kolotnya, taipan pisang Alvaro Noboa meraih sekitar 32% dengan hampir separuh kotak suara sudah dihitung di seluruh negara.

Sebagian hasil itu mungkin tidak mencerminkan kecenderungan negara, karena jumlah suara sering datang dari provinsi kecil dan daerah padat penduduk pada waktu berbeda.

Tapi, tiga jajak pendapat dan hitung cepat pada Minggu memperlihatkan Correa meraih sekitar 57%.

Correa, mantan menteri ekonomi berumur 43 tahun, menjanjikan rakyat Ekuador akan menghajar tokoh tua politik, yang banyak dituding gagal memberantas kegoyahan dan kemiskinan, yang merundung lebih dari separuh 13 juta penduduk negeri itu.

Tapi orang luar berkarisma itu, yang memunyai sedikit pendukung di badan pembuat undang-undang, mungkin bertentangan dengan Kongres atas rencananya membentuk majelis pemilih untuk menulis ulang undang-undang dasar, karena anggota parlemen berupaya mempertahankan pengaruhnya.

"Kami memperkirakan kebuntuan dan benturan antara eksekutif dan legislatif akan mencapai ketinggian baru di bawah pemerintahan Correa," kata Goldman Sachs dalam catatan penelitiannya.

Dengan mencerminkan kegelisahan penanam modal, denominasi utang dolar Amerika Serikat Ekuador jatuh pada Senin. Rentang risiko Ekuador melebar 61 angka dasar pada ketinggian enam minggu sejumlah 597 angka pada bandingan EMBI+ JP Morgan. Pelebaran rentang itu mencerminkan kekurangan selera penanam modal akibat risiko pada utang itu.

Noboa, orang terkaya Ekuador dengan saham dari kopi sampai pembangunan, menolak hasil jajak pendapat dan mengatakan bisa menuntut pengawasan ketat penghitungan suara jika perlu. Hasil lengkap resmi penghitungan suara dapat diperoleh hari Selasa.

Ekuador, pengekspor terbesar pisang dunia dan penghasil nomor lima minyak Amerika Latin, berjuang untuk menenangkan kembali politik sesudah tiga presiden ditumbangkan dalam kurang dari satu dasawarsa oleh kekacauan kongres dan rakyat.

Presiden terpilih terahir Ekuador, tentara dan mantan pemimpin kup Lucio Gutierrez, ditumbangkan April tahun lalu sesudah pengunjukrasa jalanan dan Kongres secara kasar menuduhnya mencampuri kebebasan mahkamah agung.

Negara itu mendapat keuntungan dari banjir pendapatan minyak, tapi pengecamnya menakutkan kebijakan Correa mungkin memicu kemelut ekonomi mirip yang memicu kegagalan utang tahun 1999 dan memaksa negara itu menerima dolar sebagai mata uang resminya. (*/cax)