Ia mengatakan Israel melancarkan perang 34-hari Juli-Agustus dengan cara yang dijamin gagal dengan berusaha melakukannya melalui penangkalan dari udara, dan bukan mengambil pelajaran "yang kelihatannya telah kita lupakan di Irak" dan hanya seorang prajurit yang bersenjakan bayonet dapat mematahkan keinginan musuh.
Israel menggunakan banyak pemboman udara dalam perang tersebut tapi gagal mencapai tujuan utamanya: membuat Hizbullah menghentikan serangan roket ke dalam wilayah negara Yahudi serta membebaskan dua prajuritnya yang ditangkap.
Perang itu berakhir dengan gencatan senjata yang diperantarai PBB pada 14 Agustus.
"Jadi, kesudahan dari kebijakan yang tak dapat dimengerti ini ialah membesarkan hari Suriah, membesarkan hati Iran dan kenyataannya bahwa Hizbullah sekarang dipandang sebagai organisasi non-pemerintah (NGO) yang berkuasa," kata Armitage kepada para penengah konflik internasional yang berkumpul guna membahas cara mewujudkan perdamaian di Singapura.
Armitage mengatakan pemerintah demokratis di Lebanon sekarang berada di ambang perpecahan.
Ia menjadi pembicaraan utama pada awal pertemuan tiga hari para penengah yang telah berusaha menyelesaikan konflik yang paling sulit diselesaikan di Asia. Pertemuan itu dituan-rumahi secara bersama oleh Pusat Dialog Kemanusiaan (HD Centre), yang berpusat di Jenewa, dan Lembaga Kajian Asia Tenggara (ISEAS) di Singapura.
Armitage, veteran Perang Vietnam yang bertugas di pemerintahan presiden AS George W. Bush dari Maret 2001 sampai 2005, mengatakan Amerika Serikat tak dapat menang atau kalah secara militer di Irak.
"Kami tak dapat memiliki keingini keberhasilan yang lebih besar di sana dibandingkan dengan keinginan rakyat Irak untuk meraih keberhasilan. Kami tak dapat menginginnya buat mereka, dan itu sudah usai sekarang," katanya.
Ia mengatakan salah satu kekeliruan terbesar AS di Irak ialah tak mau mengambil pelajaran dari upaya untuk secara demokratis membangun kembali Jerman dan Jepang setelah Perang Dunia II.
"Mereka memaksa rakyat yang menderita akibat perang ... untuk memakai jubah demokrasi dan bergerakmaju. Kami berusaha merangkul rakyat Irak dan itu adalah kekeliruan besar," kata Armitage, Presiden Armitage International, suatu perusahaan konsultan.
Masalah Afghanistan
Ia juga menyatakan taruhan jangka pendek di Afghanistan lebih besar dibandingkan dengan di Irak, karena kerumitan regional.
"Jika Afghanistan bukan keberhasilan, Pervez Musharraf di Pakistan takkan berhasil dalam bergerak ke arah sikap lebih moderat," katanya. Ia merujuk kepada Presiden negara bersenjata nuklir Pakistan.
Ditambahkannya, tetangga Pakistan, India, sudah merasa prihatin mengenai ketidak-stabilan di wilayahnya.
"Jadi, dampak dari kurangnya keberhasilan di Afghanistan akan memiliki akibat yang sangat besar," kata Armitage. (*/cax)