"Pembentukan pusat desain dan rekayasa kapal tersebut bekerjasama dengan ITS (Institut Teknologi Surabaya)," kata Sesditjen Industri Alat Transportasi dan Telematika (IATT) Deperin Bati Lestari, di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan pengembangan pusat desain dan rekayasa kapal itu dilakukan dalam upaya pemerintah meningkatkan infrastruktur teknologi bagi industri nasional.
"Kami menargetkan setidaknya dengan adanya pusat desain dan rekayasa kapal tersebut mampu menekan biaya produksi kapal karena tidak perlu lagi memesan desain kapal dari luar," ujarnya.
Pusat desain dan rekayasa kapal tersebut, lanjut Bati, merupakan salah satu faktor yang penting karena desain bisa diibaratkan sebagai resep masakan yang menentukan produk jadinya.
Oleh karena itu, pusat desain dan rekayasa kapal yang ada di Surabaya itu lebih pada software (perangkat lunak) dan hardware (perangkat keras) untuk membuat kapal yang diharapkan ditangani tenaga ahli Indonesia sendiri.
Sebelumnya Menperin Fahmi Idris dalam kunjungan kerjanya ke Jepang dan Korea Selatan mengharapkan kedua negara tersebut membantu pengembangan pusat desain dan rekayasa kapal tersebut, terutama dalam hal bantuan teknis.
Lebih jauh Bati mengatakan pihaknya juga bekerjasama dengan BUMN galangan kapal Cina (China Shipbuilding Corporation) untuk membantu meningkatkan kinerja industri galangan kapal nasional.
"Kami akan memanfaatkan dana hibah dari pemerintah Cina untuk melakukan `assesement` industri galangan kapal kita seperti apa agar bisa mengoptimalkan peluang pasar yang besar dengan diberlakukannya Inpres Nomor 5 Tahun 2004 itu," katanya.
Bati mengatakan peluang industri galangan kapal nasional sangat besar untuk meningkatkan produksinya dengan adanya Inpres Nomor 5 yang mengharuskan pelayaran di dalam negeri menggunakan kapal berbendera Indonesia (azas cabotage).
Namun, diakuinya, saat ini banyak industri galangan kapal juga kesulitan untuk mendapatkan modal kerja. Karena itu, lanjut dia, dari sekitar 250 industri galangan kapal, hanya industri yang besar yang pesananya sudah penuh.
"Dari jumlah tersebut sekitar 60-70 industri galangan kapal di dalam negeri berada di Batam, dan rata-rata mereka sudah dapat pesanan penuh," katanya.
Berdasarkan data Deperin, dibandingkan industri lainnya industri alat transportasi tumbuh paling tinggi dengan target pertumbuhan tahun 2006 sebesar 9,2% dan industri maritim ditargetkan tumbuh sekitar 7%. (*/rit)