Pelatih nasional Jhony asal Bandung mengatakan, tidak ada masalah dengan barbel baru itu karena atlet Indonesia sudah selalu menggunakannya, namun ia khawatir berat besi itu berbeda dengan barbel lama yang digunakan mereka dalam latihan sebelum berangkat ke Doha.
"Bisa saja dalam latihan menggunakan besi lama ada sedikit keropos sehingga mengurangi bobot besi. Tapi saya harapkan semoga hal itu tidak terjadi. Yang penting atlet kita berlatih dengan tenang dan semangat tinggi," kata Jhony saat mengamati latihan Eko Yuli Irawan (56 kg) dan Triyatno (62 kg) di kawasan Stadion Khalifa Doha, Kamis petang.
Johny menjelaskan, besi ukuran 20 kg dari bagian barbel yang diangkat atlet, sama dengan yang selalu digunakan dan bila besi itu sudah lama maka ia khawatir ada perbedaan berat dengan yang lama.
Pada sudut lain dalam ruang latihan yang juga dilakukan atlet dari Korea Selatan dan Myanmar, terlihat Lisa Rumbewas (53 kg) sedang dilatih ibundanya Ida Korwa, sedangkan di matras lainnya Okta Dwi Pramita (53kg) dalam ruangan ringin itu berkeringat dilatih Edi Santosa.
Jhony menambahkan, semua atlet yang berlatih Kamis petang melakukan angkatan snatch dan clean&jerk selama satu sampai 1,5 jam.
"Latihan sengaja tidak dibebani, karena lawan belum ada tapi musuh mereka pasti yang mereka hadapi pada kejuaraan dunia di Santo Domingo. Yang jelas saingan terberat datang dari Cina dan Korea Selatan. Juara di kelas Eko adalah Li Zheng dari Cina," kata Johny.
Hal senada diungkapkan Ida Korwa ketika ditanya bagaimana kira-kira peluang peraih medali perak Olimpiade Sydney 2000 serta Olimpiade Athena 2004, Lisa Rumbewas, saat naik pentas di Asian Games Doha.
Ketika tampil di Santo Dominika, Lisa yang diharapkan meraih medali perak di Doha, meraih medali perak di nomor 53 kg setelah melakukan angkatan total 210 kg dengan rincian 95kg untuk angkatan snatch dan 115 kg pada angkatan clean & jerk (CJ).
Ketika itu, peraih medali emas berasal dari Cina, Qiu Hongxia dengan angkatan 226 kg lewat permainan angkatan 98 kg untuk snatch dan 128 pada angkatan clean & jerk.
Ida Korwa mengatakan, Cina amat taktis bila menghadapi pewat olahraga akbar termasuk setingkat Asian Games. Salah satu taktik mereka, tidak menurunkan juaranya pada kejuaraan dunia lalu, melainkan mendatangkan Li Ping.
”Tapi jagonya sama saja. Itu taktik, sehingga kita agak buta kekuatan mereka. Sementara kita tetap menurunkan Lisa serta Okta, karena kita masih mencari cadangan pemain di kelas ini,” kata Ida.
Saat itu, medali perunggu jatuh pada atlet Thailand, Chaleephay Suda yang hanya terpatu tiga kilogram dengan Lisa, saat melakukan total angkatan 207 kg lewat angkatan snatch 92 kg dan 115 kg angkatan clean & jerk.
Sedangkan rekan senegara Liga, Oka Dwi Pramita, yang turun di kelas sama dengan Lisa, membuat angkatan total 191 kg (snatch 85 kg dan clean & jerk 106 kg) untuk berada di urutan kedelapan.
Ketika latihan Kamis petang, Lisa terlihat beberapa kali melakukan angkatan seberat 80 kg. “Kita programkan ia mengangkat barbel seberat 80 kg sebanyak dua kali, kemudian mengangkat barbel 85 kg satu kali tapi dengan tiga set barbell,” kata Ida, suami mantan atlet binaraga Rumbewas.
Menguatkan mental
Latihan mengangkat berat beban dengan gerakan snatch dan clean&jerk juga dilakukan Eko (56 kg) dan Triyatno (62 kg) secara bergantian di atas kanvas yang sama.
"Kita hanya menjaga keprimaan fisik mereka dan tidak memaksakan kehendak kita kepada mereka," kata Johny.
Sedangkan Eko, siswa kelas II SMA N Parung Panjang Lampung, mengatakan ia tidak merasakan beban dalam menghadapi pertandingan mendatang, karena ia sudah pernah tampil dalam kejuaraan junior dunia di Cina serta kejuaraan dunia di Santo Domingo.
"Dengan tampilnya di Santo Domingo dan Cina, saya merasa biasa saja dan tidak terbebani mental melihat para atlet dunia yang datang ke sini," kata Eko, putera Lampung yang dilahirkan ibu Wastiah dari ayah Sanan, 17 tahun lalu.
Triyatno, yang baru lulus SMA dan sealmamater dengan Eko, mengatakan hal sama saat ditanya bagaimana kesannya menghadapi pertandingan mendatang.
Pada kejuaraan dunia di Santo Domingo, Eko menempatkan diri di urutan kedelapan dunia atau kelima kawasan Asia sedangkan Triyatno di tempat kesembilan dunia dengan catatan angkatan total 285 kg, masing-masing 130 kg untuk snatch dan 155 kg untuk 155 pada angkatan clean& jerk.
Okta yang ditemui seusai latihan, juga mengatakan akan berusaha berbuat yang terbaik. "Saya akan berusaha mengeluarkan semua kekuatan saya," tutur gadis itu dengan wajah ceria.
Tim Manajer Syafriadi Cut Ali yang mengawasi latihan para atlet, mengatakan semua atlet latihan dengan serius dan tidak merasakan tekanan mental. "Itu yang membuat saya bangga," kata Syariadi, yang juga ketua harian PB PABBSI dan bertugas sebagai salah seorang staf ahli Kapolri.
Ia mengatakan, Kamis petang Sinta Darmariani (75 kg) tidak ikut latihan karena ia bertanding masih lama. Oko, Lisa dan Okta bertanding pada 2 Desember, disusul Triyatno pada 3 Desember dan Sinta pada 5 Desember.
"Besok (1 Desember) mereka tidak latihan. Kita ikuti acara pembukaan resmi Asian Games, kemudian lusa bertanding. Kita mohon doa masyarakat Indonesia untuk keberhasilan tim kita," kata Syafriadi.
Ketua Umum PB PABBSI Adang Daradjatun yang juga Wakapolri, sebelum atlet berangkat ke Doha, menyatakan ia amat berharap agar lifternya dapat memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara. (*/cax)