< >

Protes Berlanjut, Hosni Mubarak Khawatir Lebanon Jadi Ajang Tempur

Minggu, 03 Desember 2006 14:07
Kapanlagi.com - Presiden Mesir Hosni Mubarak, Sabtu (02/12/06), mengatakan ia khawatir demonstrasi yang berlanjut di jalan, terutama jika semua itu jadi sektarian, dapat mengubah Lebanon jadi ajang pertempuran.

Hari Jumat ratusan ribu pemrotes pimpinan Hizbullah berpawai di Beirut guna berusaha memaksa pengunduran diri Pemerintah Perdana Menteri Fouad Siniora, yang didukung AS. Protes itu berlanjut Sabtu.

"Kebijaksanaan diperlukan dalam menangani perbedaan pendapat internal," kata Mubarak kepada wartawan di Sharm Esh-Sheikh, tempat ia bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

"Apa yang saya takutkan jika demonstrasi berlanjut, dan berbentuk sektarian, ialah pendukung aliran ini dari luar Lebanon akan bergabung dan tak seorang pun akan mampu menguasainya, terutama jika itu berlanjut untuk jangka waktu lama," katanya.

Mubarak, salah satu sekutu Washington di Timur Tengah, mengatakan ia khawatir kekuatan luar dapat menambah parah keadaan.

"Dan hasilnya akan berupa perubahan Lebanon jadi ajang pertempuran yang menyeretnya ke dalam bahaya," katanya.

Hizbullah, kelompok Syiah paling tangguh di Lebanon, dan aliansi pro-Suriahnya telah menyeru rakyat Lebanon di seluruh negeri tersebut agar ikut dalam protes di ibukota negeri itu, Beirut, yang direncanakan dilanjutkan dengan aksi duduk tanpa batas-waktu.

Hizbullah, yang didukung oleh Suriah dan Iran, telah mencap pemerintah Siniora sebagai boneka AS.

Faksi garis keras Lebanon tersebut telah terlibat percekcokan dengan pemerintah Siniora mengenai apa yang dikatakannya sebagai kegagalannya untuk mendukung kelompok itu selama perang Juli-Agustus melawan Israel.

Pada hari yang sama Menteri Luar Negeri Inggris Margaret Beckett, yang sedang berkunjung di Lebanon, menyampaikan dukungan pemerintahnya bagi pemerintah Seniora, dan tak mengacuhkan protes oleh kubu pro-Suriah di luar markas pemerintah di Beirut.

"Ini adalah peluang bagi saya untuk memperkuat dukungan Kerajaan Inggris bagi pemerintah Lebanon dan upaya guna memelihara kestabilan serta demokrasi," kata Beckett setelah pertemuan dengan Seniora. Ia menyeru semua faksi Lebanon agar "bekerjasama bagi kebaikan Lebanon dan kembali ke dialog".

Beckett mengatakan ia "sangat prihatin dengan situasi di Lebanon" menyusul pembunuhan menteri perindustrian anti-Suriah Pierre Gemayel pada 21 November.

Ketika berbicara kepada wartawan pada taklimat bersama dengan Menteri Luar Negeri sementara Lebanon Tarek Mitri, Beckett berkata," Tentu saja, pemerintah (Lebanon) menghadapi rintangan yang sangat serius." (*/rit)