Ketiga ledakan besar tersebut mengguncang wilayah komersial yang dipenuhi pengunjung, saat rakyat Irak bergegas pulang sebelum malam tiba, dan melukai sebanyak 87 orang lagi. Banyak korban tewas adalah perempuan.
Seorang pejabat pertahanan mengatakan ledakan pertama tampaknya ditujukan kepada satu jip Humvee militer Irak di kabupaten Rusafa di Baghdad tengah saat matahari terbenam. Terdapat tentara di antara korban jiwa, tapi pejabat tersebut tak dapat mengatakan jumlahnya.
Ledakan kedua terjadi tak lama setelah ledakan pertama dan yang ketiga meledak tak lama setelah itu. Bom ketiga meledak hanya terpaut 500 meter dari seberang sungai Tigris. Tak lama setelahnya, baku-tembak juga terjadi di seluru kota tersebut.
Sepuluh toko terbakar dalam ledakan di dekat lapangan Al-Wathba, daerah komersial bersejarah yang terkenal bagi suku Kurdi pemeluk Syiah, dan 13 mobil milik warga sipil rusak, kata seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri. Ia memperingatkan jumlah korban jiwa mungkin bertambah.
Sekitar satu jam setelah ledakan itu, lima suara ledakan lagi terdengar, tampaknya dari peluru mortir yang ditembakkan oleh salah satu kelompok bersenjata yang berperang di kota tersebut.
Serangan Sabtu itu terjadi menyusul operasi besar keamanan sehari sebelumnya tak jauh agak ke utara di daerah permukiman Fadhel. Dalam operasi tersebut, tentara Irak dan AS menyerbu beberapa tempat yang dicurigai sebagai tempat persembunyian pejuang dan menangkap 28 tersangka.
Pemboman tersebut mengingatkan orang akan serangan mematikan pada 23 November yang terjadi di Kota Sadr, Baghdad, ketika tiga bom mobil meledak di berbagai tempat dan menewaskan 202 orang --serangan terburuk di Irak sejak serbuan pimpinan AS 2003.
Pemboman di Kota Sadr menyulut aksi pembalasan pengikut Syiah terhadap pemeluk Sunni dan setidaknya empat tempat ibadah menjadi sasaran serangan.
Dalam kerusuhan lain di seluruh Irak, Sabtu, 15 orang lagi tewas saat gerilyawan dan anggota milisi melancarkan serangan bom dan senjata api di wilayah di sekitar ibukota Irak, yang dicabik pertempuran, Baghdad.
Lima prajurit Irak yang berpakaian sipil dan baru kembali dari markas mereka di sebelah utara Baghdad tewas ketika gerilyawan memberondongkan peluru dari senjata otomatis, kata Letnan Ali Mohammed Hassan dari kepolisian Balad.
Di tempat lain, 10 orang lagi tewas.
Gelombang kerusuhan paling akhir itu terjadi saat salah satu politikus paling tangguh di Irak Abdel Aziz Al-Hakim bertolak menuju Washington untuk mengadakan pertemuan yang tak pernah terjadi sebelumnya dengan Presiden AS George W. Bush.
Menurut laporan pers AS, Washington mulai kehilangan harapan untuk dapat merangkul kelompok minoritas Sunni di Irak dan berencana membangun kembali jembatannya dengan kelompok Syiah dalam upaya mengekang milisi tak resmi mereka. (*/rit)