< >

Hamas Ingin Lanjutkan Dialog Dengan Fatah

Minggu, 03 Desember 2006 18:15
Kapanlagi.com - Seorang pemimpin Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS) Moussa Abu Marzouk, Sabtu (02/12/06), menegaskan keinginan HAMAS untuk melanjutkan dialog dengan partai oposisi Fatah, pimpinan Presiden Mahmoud Abbas, guna membentuk pemerintah persatuan nasional.

"Tak diragukan terdapat beberapa kesulitan yang menghalangi pembentukan pemerintah sementara Abu Mazen telah mengajukan persyaratan baru. Tetapi HAMAS ingin menyelesaikan dialog jauh dari persyaratan sampingan yang diajukan oleh Abu Mazen," kata Abu Marzouk dalam percakapan telefon.

Pernyataan Abu Marzouk tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang mengatakan perundingan antara HAMAS dan Fatah telah mengalami kebuntuan.

"Berbicara mengenai kebuntuan tak tetap. Ini adalah sejenis tekanan atas para perunding," kata Abu Marzouk. Ia menuduh Abu Mazen berusaha mengusir HAMAS dari pemerintah.

"Satu-satunya penyelesaian ialah kembali ke dasar yang disepakati dengan Abu Mazen untuk membentuk pemerintah jauh dari lambang-lambang politik. Pemerintah yang berusaha mencabut pembatasan," katanya.

"Kalau saja ada kesungguhan dari Fatah dalam menangani masalah ini, keadaan tentu akan berbeda, tapi sebagian saudara di Fatah memberi sumbangan dalam melakukan pengepungan," katanya.

Abu Marzouk mengecam Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice, dan mengatakan, "Kebijakan AS masih bertekad untuk tetap sia-sia dalam lebih dari satu arah ... ia mesti memahami bahwa ada rakyat (Palestina) yang takkan pernah melepaskan hak mereka dan perlawanan mereka selama ada pendudukan."

"Rice mesti menangani pilihan rakyat Palestina dan bersikat adil dan seimbang," katanya.

Ketika mengomentari gagasan perdamaian Perdana Menteri Israel Ehud Olmert baru-baru ini, Abu Marzouk berkata, "Olmert berbicara mengenai sesuatu dan yang bertolak belakang pada saat yang sama. Ia memberi sesuai dengan satu tangan dan merenggutnya dengan tangan lain. Tak ada gagasan pada kenyataannya. Ia berbicara mengenai penghapusan hak untuk pulang. Ini tak dapat terjadi."

HAMAS tetap terikat komitmen untuk menghentikan serangan rudal terhadap wilayah Israel sebagai imbalan bagi diakhirinya agresi Israel terhadap rakyat Palestina.

Telah terjadi "beberapa kemajuan" dalam perundingan mengenai pembebasan prajurit Israel yang ditangkap Juni lalu oleh pejuang Palestina, kata Abu Marzouk.

Masalah pembeasan tahanan Palestina dari berbagai penjara Israel sedang berlangsung "dalam cara yang memuaskan". Namun, kelompok yang telah menangkap prajurit Israel akan menetapkan kriteria mereka dan mengajukan daftar nama.

Abu Marzouk meremehkan pentingnya pertemuan puncak mendatang Palestina-Israel, dan berkata, "Kami tak berharap banyak dari itu mengingat sikap keras kepala Israel."

Kecam Abbas

Hari Sabtu, jurubicara HAMAS mengecam keputusan Abbas dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) untuk menghentikan pembicaraan mengenai pembentukan pemerintah persatuan.

"Kami menyesali keputusan tak adil ini yang mengejutkan setiap orang Palestina yang menantikan kelahiran pemerintah persatuan nasional," kata jurubicara HAMAS Fawzi Barhomm kepada Voice of Palestine Radio.

Hari Kamis, Abbas mengatakan pembicaraan mengenai pemerintah persatuan telah mengalami kebuntuan. Sehari kemudian, Komite Pelaksana PLO, yang dipimpin oleh Abbas, bersidang di Jalur Gaza dan mengumumkan pembekuan pembicaraan dengan HAMAS.

PLO menyatakanp embicaraan hanya dapat dilanjutkan ketika Perdana Menteri Ismail Haniya dari HAMAS mundur. Barhoom, yang menyeru Abbas agar kembali ke meja perundingan, berkata, "Tampaknya PLO diperbarui, dan HAMAS telah seringkali menuntut ini."

Ditambahkannya, Komite Eksekutif PLO "hanya bersidang untuk menggulingkan HAMAS dan pemerintah yang dipimpinnya, dan selalu menyetujui keputusan faksi Fatah".

PLO terdiri atas semua faksi politik Palestina, kecuali HAMAS dan Jihad Islam. (*/rit)