Sekitar tujuh juta pemilik suara, dari 14 penduduk negara itu, memberikan suaranya di 17.500 pos pemungutan suara yang tersebar di republik pulau yang luas tersebut, namun tercatat sebagai negara termiskin di dunia.
Kampanye pemilu berakhir tanpa gereget, tak satupun dari pesaing Ravalomanana yang meraih kemungkinan sebagai pengganti presiden yang berakhir masa jabatannya itu, yang suatu ketika dia adalah bocah pengantar susu dan sekarang menjadi orang terkaya di Madagaskar.
Namun kenangan kekerasan setelah pemilu 2002 masih menghantui penduduk Madagaskar, dan 100 pengamat pemilu asing, yang 52 di antara adalah utusan dari Uni Eropa, menjamin bahwa semuanya akan berjalan lancar.
Di negara ini juga terdapat 11.000 pengamat lokal independen dan 3.200 pengamat dari komite pemilihan nasional.
Setalah pemungutan suara Desember 2001, perang meletus antara pendukung Ravalomanana dan pesaingnya Didier Ratsiraka, yang kalah suara setelah 30 tahun dalam kekuasaan, menceburkan bekas koloni Perancis ini ke dalam kekerasan yang membuat belasan warganya tewas dan mengalami kesulitan serius di bidang ekonomi.
Pos-pos pemungutan suara dibuka mulai pukul 07:00 waktu setempat dan ditutup pada pekul 06:00 sore, meskipun jam-jam ini bisa diperpanjang.
Untuk mengetahui hasilnya, sedikitnya diperlukan waktu tiga pekan untuk mengetahui hasil resmi.
Jika seorang kandidat gagal memenangkan mayoritas mutlak dalam putaran pertama, dua calon yang mencapai hasil terbaik akan dipersaingkan dalam tempo 30 hari putaran pertama, dan kemudian hasilnya akan diumumkan. (*/rit)