"Media mesti menjadi driving forces (daya dorong) dengan mengirim berita yang bernada positif mengenai tempat wisata kita," katanya dalam acara Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2006 di Jakarta, Kamis (04/01).
Dicontohkan, berita yang bernada positif tentang suatu tempat wisata adalah dengan menceritakan kemudahan untuk mencapai ke lokasi dan berbagai keindahan yang terdapat di tempat tersebut.
Teori keilmuan tentang pariwisata mengenal adanya sebuah daya dorong yang menyebabkan orang berpergian dari satu tempat ke tempat lain.
Namun, lanjut Menbudpar, selain daya dorong itu juga terdapat apa yang disebut restraining forces atau daya hambat yang membuat orang enggan berwisata.
Media yang menyiarkan berbagai kabar yang bernada negatif tentang tempat pariwisata di Indonesia adalah contoh dari daya hambat pariwisata, katanya.
"Media yang menakut-nakuti, menjelek-jelekkan atau melecehkan akan membuat orang yang awalnya setengah-setengah menjadi batal berwisata," kata Wacik.
Ia mengungkapkan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) sangat terkait dengan pers karena departemen tersebut akan maju bila media menjadi daya dorong, baik di bidang kebudayaan maupun pariwisata.
Selain itu, dengan turut meningkatkan pariwisata sama saja dengan mensejahterakan rakyat karena pariwisata berdampak positif terhadap perkembangan ekonomi khususnya kepada masyarakat di sekitar lokasi tempat wisata, tambahnya.
Sebelumnya, dalam laporan akhir tahun kinerja Depbudpar disebutkan bahwa jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia menurun 4,6% menjadi 3,59 juta di banding periode yang sama tahun sebelumnya 3,76 juta. Sedangkan kenaikan terjadi pada jumlah wisatawan domestik sebesar 1,5%.
Untuk 2007, Depbudpar memprediksikan bila keadaan Indonesia tetap aman dan kondusif maka jumlah wisatawan akan meningkat mencapai 5,3 hingga 5,5 juta wisatawan. (*/lpk)