Kenaikan Kapasitas Pabrik Gula Rafinasi Harus Sesuai Daya Serap Pasar
Kapanlagi.com - Peningkatan kapasitas produksi pabrik gula rafinasi dari 1,36 juta ton menjadi 1,93 juta ton pada 2007 ini, harus mengacu kebutuhan riil atau daya serap industri makanan dan minuman, agar surplusnya tidak masuk ke pasar gula konsumsi. "Keberadaan empat pabrik gula rafinasi diharapkan tidak mematikan pabrik gula berbahan baku tebu yang sudah ada. Selain segmen pasarnya berbeda, masing-masing pabrik memiliki keunggulan tersendiri," ujar Wakil Sekjen Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) Adig Suwandi kepada pers di Surabaya, Kamis (04/01). Produk gula rafinasi dikhususkan untuk bahan baku industri makanan dan minuman, sedangkan gula kristal putih produksi pabrik gula lokal untuk konsumsi masyarakat secara langsung. Pada 2006 lalu, produksi gula rafinasi diperkirakan mencapai 1,2 juta ton, sementara yang terserap industri makanan dan minuman jauh lebih kecil. Hal itu disebabkan, industri makanan dan minuman lebih senang mengimpor langsung karena harga dan kualitasnya lebih baik. "Kelebihan produksi gula rafinasi itulah yang kemudian masuk pasar dan mengganggu peredaran gula konsumsi. Kedepan, kondisi ini tidak boleh terjadi lagi, sehingga peningkatan kapasitas produksi harus benar-benar dicermati," ujar Adig. Departemen Perindustrian sebagai pemberi rekomendasi impor raw sugar untuk pabrik gula rafinasi dan impor gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman, hendaknya lebih hati-hati dan selektif. "Jangan hanya terpaku pada kapasitas, melainkan juga rencana pemasaran produk. Kalau perlu harus disertai jaminan kontrak dari pengimpornya," tegasnya. Menurut dia, pabrik gula rafinasi seharusnya masuk ke hulu dengan menanam tebu, agar bahan baku yang selama ini dipasok dari raw sugar impor tidak perlu terjadi. Hal semacam ini pernah dilakukan industri minyak goreng yang pada mulanya membeli crude palm oil dari komunitas perkebunan, tetapi belakangan juga masuk ke hulu dengan mengembangkan kebun sendiri. "Hal ini dimaksudkan untuk menjaga eksistensi pabrik gula rafinasi kedepan. Karena ketika harga gula dunia naik tajam, mereka tidak lagi dipusingkan dengan impor," paparnya. (*/lpk) |