< >

Irak Tunda Eksekusi Para Pembantu Saddam

Jum'at, 05 Januari 2007 05:19
Kapanlagi.com - Irak menunda pelaksanaan hukuman gantung terhadap dua pembantu Saddam Hussein di tengah tekanan internasional menyusul penggantungan Saddam, yang sembrono dan dikritik banyak pihak.

Barzan Ibrahim Tikriti, saudara tiri Saddam sekaligus mantan kepala intelijen, beserta Awad Ahmed al-bandar, kepala pengadilan revolusioner, sebelumnya dijadwalkan digantung hari Kamis (04/01).

Seorang pejabat tinggi, yang minta namanya tidak disebut, dari kantor perdana menteri Nuri Maliki, mengatakan penundaan eksekusi itu "akibat tekanan internasional".

Baha Araji, anggota parlemen -yang berpengaruh- dari kaum Syiah dan pendukung ulama keras Moqtada Sadr, mengemukakan, "Saya yakin itu sudah beres pada hari Minggu."

Wakil Syiah lain, Sami Askari, mengemukakan bahwa eksekusi itu akan dilakukan setelah libur perayaan Idul Adha berakhir pada Sabtu. Dia tidak memberikan tanggal pelaksanaan eksekusi tersebut.

"Eksekusi itu akan dilakukan setelah liburan," kata Askari, yang menjadi wakil Maliki saat menyaksikan eksekusi Saddam.

Askari juga mengemukakan, beberapa anggota pemerintah berpandangan agar eksekusi dua mantan pejabat zaman Saddam tersebut dilakukan setelah pengadilan tinggi memberi putusan atas permohonan banding dari kejaksaan, yang menginginkan hukuman mati terhadap pembantu lain Saddam.

Kejaksaan mengajukan banding agar Taha Yassin Ramadan, mantan presiden, juga dihukum gantung. Pengadilan tingkat pertama memutuskan dia dipenjara seumur hidup.

Pada Rabu, jurubicara Perserikatan Bangsa-bangsa, Michele Pontas, mengemukakan bahwa Sekretaris Jenderal badan dunia itu, Ban Ki-moon, menentang hukuman mati.

"Sekretaris Jenderal sangat yakin atas kearifan pasal 3 deklarasi universal hak asasi manusia, yang menyatakan semua orang berhak atas kehidupan, kebebasan serta jaminan keamanan," katanya.

"Dia sangat menyetujui imbauan dari (Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa) Louise Arbour agar pemerintah Irak menahan diri atas pelaksanaan hukuman mati, yang sudah dikuatkan putusan pengadilan tinggi Irak," katanya.

Eksekusi Saddam lima hari lalu membuat marah kaum Sunni dan memicu kritik pengamat, yang menganggap Saddam dipermalukan beberapa menit sebelum menjalani hukuman mati.

Namun, seorang pejabat tinggi Irak membenarkan pelaksanaan hukuman mati itu.

"Di mana yang mempermalukan? teriakan dari kerumuman?," kata penasehat keamanan nasional Mowaffaq Rubaie, yang menyaksikan langsung eksekusi itu, kepada CNN.

Salah seorang yang hadir meneriakkan "Moqtada! Moqtada! Moqtada!" kepada Saddam, yang membuat sebagian pengamat membandingkan eksekusi itu dengan tindakan main hakim sendiri.

"Pada dasarnya, mereka mengucapkan doa selamat serta permohonan dan di ujung permohonan, mereka menyebut nama Moqtada," kata Rubaie.

"Saya tidak melihat di mana dipermalukannya. Sejujurnya, Moqtada, Moqtada, Moqtada, bukan kata kotor, bukan kata kasar. Mereka bukan mengutuk," katanya.

Rubaie juga menjelaskan mengapa algojo dan pejabat Irak menari mengelilingi mayat Saddam.

"Ini tradisi Irak. Jika melakukan sesuatu, mereka menari mengelilingi mayat dan mereka mengeluarkan perasaan," katanya.

"Apa salahnya? Jika itu membuat perasaan tidak senang pada sebagian negara Arab dan pemimpinnya, saya pikir, semoga mereka diberi keberuntungan," katanya.

"Sepanjang pengetahuan dan kepercayaan saya, setelah meninggalkan tempat itu, saya bangga dengan apa yang terjadi dan itu sudah sesuai dengan prosedur, namun ketika video itu tersebar luas, saya melihat ada yang tidak pantas dan ini harus ditekankan," katanya. (*/lpk)