"Sudah beberapa tahun ini, proses belajar mengajar berlangsung secara darurat di bawah Meunasah karena gedung permanen yang telah dibakar orang tak dikenal saat konflik berkecamuk itu hingga kini belum dibangun," kata sorang warga, A Rahman Itam, Jumat.
Masyarakat di desa terpencil tersebut sangat berharap pemerintah dan pihak donor itu segera membangun kembali gedung permanen.
Dihadapan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NAD, Anas M Adam dan Ketua Komisi E DPRD NAD Jamaluddin T Muku, ia menjelaskan, sudah hampir empat tahun siswa belajar secara darurat beralaskan tikar di lantai dasar di bawah bangunan Meunasah.
"Proses belajar mengajar memang berlangsung rutin setipa hari, namun tidak berjalan normal karena selain tidak memiliki gedung permanen, staf pengajar (guru) juga sangat terbatas. Hanya ada dua orang guru tetap, dan beberapa orang honor lepas," kata A Rahman Itam.
Saat ini, jelas dia, siswa dan tenaga pengajar hanya memiliki keinginan kuat untuk menatap masa depan lebih baik dengan upaya melahirkan insan yang berpendidikan meski tempat tinggalnya terpencil.
"Kami dan warga di desa ini tetap berupaya agar proses belajar mengajar tetap berjalan meski berjalan secara darurat, namun sangat berharap pembangunan kembali gedung sekolah permanen," tambahnya.
Dipihak lain, A Rahman yang juga Kepala SMP Alue Ie Mirah, menjelaskan, beberapa sekolah lain (SD dan SMP) di Kecamatan Pantee Bidadari juga sangat berharap perhatian pemerintah untuk pengadaan guru tetap dan guru bantu, guna menunjang kelancaran peroses belajar dan mengajar di daerah itu.
"Ada sekolah yang hanya tersedia seorang guru tetap. Saya merangkap sebagai guru selain tanggungjawab sebagai kepala sekolah," katanya.
Kondisi itu sangat memprihatinkan dan tidak mungkin mampu meningkatkan kualitas pendidikan anak didik ke ke arah lebih baik dimasa mendatang, jelas dia.
Apalagi, tambahnya, banjir bandang pekan lalu ikut merendam sejumlah sekolah di Kecamatan Pantee Bidadari itu telah mengakibatkan mobiler dan buku-buku bacaan siswa di perpustakaan musnah semuanya.
"Jadi lengkapnya masalah yang kami hadapi sekarang pasca konflik bersenjata. Dari masalah kekurangan guru sampai kepada minimnya perlengkapan sekolah di desa terpencil ini," jelas A Rahman. (*/rsd)