"Pendirian pabrik gula tersebut akan bernilai strategis karena mampu menghemat sejumlah biaya di antaranya biaya transportasi mencapai Rp33,7 miliar/tahun," kata pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Padang (UNP), Syamsul Amar, di Padang, Sabtu.
Dia mengatakan hal tersebut, terkait penanaman investasi dalam negeri melalui pendirian pabrik gula pertama di Sumbar pada kawasan Padang Industrial Park (PIP), yang izinnya kini menunggu keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan.
Menurut dia, dengan didirikannya pabrik gula, maka harga akan mampu ditekan, karena pemerintah tidak perlu menyediakan lagi biaya transportasi mengangkut gula ke Sumbar.
Kebutuhan gula masyarakat Sumbar kini cukup tinggi mencapai 6.000 ton/bulan dan selama ini hanya dipasok dari luar daerah, di antaranya Pulau Jawa dan Lampung.
Selain itu, dengan adanya gula produksi sendiri juga akan mampu menurunkan harga gula di pasaran yang kini berkisar Rp7.300 - Rp8.000/kgnya, sementara di luar negeri harga hanya Rp3.900/kg.
Naiknya harga gula di dalam daerah, juga merupakan pemicu utama inflasi, dan kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah. Pendirian pabrik tersebut juga memberikan banyak manfaat, di antaranya, peningkatan pendapatan melalui retribusi dan pajak.
Selanjutnya pemanfaatan lahan tidur dengan menggunakannya sebagai areal menanam tebu, mempercepat pembangunan wilayah pedesaan di kawasan perkebunan, serta menciptakan sejumlah "multiplier effect" di bidang ekonomi, sosial dan budaya. (*/cax)