"Oknum pelakunya sudah teridentifikasi yaitu ada dua orang," kata dia kepada ANTARA di Palu, Sabtu (06/01).
Sekalipun demikian, Kapolda Haiti menyatakan pihaknya belum bersedia menyebutkan ciri-ciri oknum pelaku, terlebih sampai menyebutkan nama mereka, karena bisa mengganggu proses penangkapan yang saat ini terus dilakukan polisi.
"Tunggu saja. Kalau sudah ada yang tertangkap nanti kita sampaikan (kepada media massa)," tuturnya.
Ledakan bom yang terjadi pada Rabu malam (27/12) di desa Betalemba, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan bangunan. Lokasi ledakan bom yang diduga rakitan ini terjadi di dekat permukiman penduduk.
Beberapa saat kemudian setelah dilakukan penyelidikan di tempat kejadian perkara, tim Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) Brimob Polda Sulteng kembali menemukan dua bom rakitan yang belum meledak dan kemudian menjinakannya.
Tapi, peristiwa ini hanya bersifat lokalis dan tidak mengganggu ketenangan warga sekitar.
Pasca kerusuhan besar bernuansa SARA melanda Kabupaten Poso tahun 2000, sering terjadi aksi kekerasan di daerah itu serta wilayah tetangga, Palu, baik berupa penembakan terhadap warga sipil (dilakukan orang-perorang), ledakan bom, maupun teror bom yang dikemas dalam berbagai bentuk seperti melalui telepon gelap, menaruh dus berisi pakaian bekas dengan kabel menjulur ke tanah.
Banyak aktivis LSM di Sulteng menduga cara-cara seperti ini dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab untuk memperkeruh suasana ketenangan yang mulai terbangun di bekas daerah konflik Poso, selain adanya kecurigaan melanggengkan konflik berdarah di wilayah tersebut karena menguntungkan berbagai pihak.
"Indikasinya jelas sebab aksi-aksi kekerasan itu selalu muncul menjelang hari-hari besar keagamaan atau menyambut pergantian tahun," sebut press realise "Poso Center"--institusi berhimpun 30 LSM di Provinsi Sulteng yang dikirimkan ke sejumlah institusi media massa di Palu. (*/rit)