Puluhan ribu pendukung Fatah memenuhi sebuah stadion untuk mendengarkan pernyataan Mohammed Dahlan, orang kuat partai itu di Jalur Gaza, yang mengancam melakukan pembalasan atas setiap serangan Hamas terhadap orang-orang Fatah.
Banyak orang di tengah massa melepaskan tembakan ke udara sambil meneriakkan "Kematian bagi pembunuh!" dan "Syiah! Syiah!" -- menunjuk pada kecurigaan Fatah bahwa Hamas dikendalikan oleh Iran.
Gambar-gambar almarhum Presiden Palestina Yasser Arafat juga terlihat dalam pawai tersebut. Fatah merupakan basis kekuatan Arafat di Organisasi Pembebasan Palestina sampai ia meninggal pada November 2004.
"Pesan kami hari ini adalah pesan persatuan dan kekuatan di bawah kepemimpinan Abu Mazen dan angkatan bersenjatanya," kata Dahlan, yang menyebutkan nama panggilan Abbas.
Ia mengatakan bahwa kematian Abu Ghraib, seorang kolonel di pasukan keamanan Palestina yang setia pada Fatah, "merupakan titik peralihan dalam hubungan kita" dengan Hamas, yang saat ini mengendalikan pemerintah Palestina setelah menang dalam pemilihan umum tahun lalu.
Ghraib tewas Kamis dalam serangan yang dilakukan para pendukung Hamas terhadap rumahnya di Jabaliya di wilayah utara Jalur Gaza, ketika kolonel itu sedang bersusah-payah melakukan hubungan telefon dengan televisi pemerintah Palestina untuk meminta bantuan.
"Jika mereka beranggapan pembunuhan ini tidak akan dibalas, mereka salah," kata Dahlan. "Kita akan meninggalkan jalan ini... dengan sebuah program baru -- jika ada orang dari Fatah diserang, maka kita akan membalasnya dua kali lebih keras."
Tayyeb Abdelrahim, sekretaris jendral kepresidenan, menambahkan, darah Palestina adalah sebuah "garis merah" yang tidak bisa diseberangi.
Fatah didirikan pada 1959 oleh Arafat namun melancarkan serangan bersenjata terhadap Israel setelah Januari 1965. (*/cax)