Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekernas) Jambi Pembina Perajin Jambi Ny Ratu Munawaroh di Jambi, Minggu mengatakan, pada 2006 sekitar Rp200 juta disalurkan Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk 10 perajin batik, kain songket, dan perajin anyaman bambu dan rotan masing-masing Rp20 juta dengan bunga rendah 3 %.
Bantuan pinjaman bergulir dalam jangka tiga tahun atau satu tahun diberikan keringanan tidak mengangsur, amat membantu para perajin yang selama ini terbentur modal mengembangkan usaha akibat tingginya harga bahan baku seperti zat pewarna dan kain sutra untuk batik, serta benang emas untuk songket.
Menurut Ny Ratu Munawaroh yang juga isteri Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin, bantuan BUMN itu akan terus digulirkan sebab usaha kerajinan rakyat di Jambi mulai tumbuh. Seiring dengan itu juga akan ditingkatkan kualitas produk kerajinan dengan mendatangkan sejumlah ahli membantik dari Yogyakarta dan ahli ukiran dari Jepara.
Produk hasil kerajinan Jambi seperti kain batik dan kain songket saat ini mulai menampakkan corak motif modern dengan tidak menghilangkan khas Jambi seperti motif durian lecah, kapal janggat, perahu kajang lako, dan angso duo.
Namun kendala yang dihadapi adalah pemasaran produk di luar daerah yang masih kalah bersaing dengan produk kerajinan dari Jawa.
Sementara itu, perajin Centra Songket Jambi, Cik Mia mengatakan, produk kerajinan industri kecil di Jambi, seperti kain songket kalah bersaing di pasar karena harga relatif tinggi, sebab perajin Jambi sebagian besar masih mendatangkan bahan baku dari luar seperti zat pewarna, sutra, dan benang emas.
Disamping itu untuk menyelesaikan satu songket seperti selendang bisa sampai 20 hari, sehingga harga songket bisa mencapai Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta.
Tapi kualitas kerajinan kain songket Jambi kini cukup baik, bahkan sudah meladeni pembeli yang menginginkan motif dalam bentuk apapun sesuai keinginan konsumen. (*/rsd)