"Saya ingin melakukan sesuatu lebih jauh, tapi diminta merendah, karena bersikap terbuka tidak dikehendaki," katanya dalam temu pers.
"Mereka mengatakan saya tidak terlalu diterima," katanya, tapi menolak menjelaskan yang mengeluarkan "nasihat tak langsung" itu.
"Sulit bagi saya mengatakannya, karena juga melibatkan pemerintah lain," katanya.
Mahathir pada Oktober menjelaskan bahwa ia pada ahir tahun 2005 memerantarai perundingan pejabat Thai dengan kelompok Melayu dari Thailand selatan untuk membantu menyelesaikan sengketa di pintu masuk Malaysia itu.
Perdana Menteri Thai Surayud Chulanont, yang diangkat sesudah kup September lalu, menyatakan yakin atas perundingan itu dan mengatakan ada "tanda baik".
Pemerintah Melayu Malaysia bersedia memainkan peran lebih besar dalam memecahkan pemberontakan tiga tahun itu, yang sudah menewaskan 1.800 orang.
Tapi, hubungannya dengan Mahathir semakin tegang tahun lalu sewaktu mantan pemimpin itu, yang mundur tiga tahun lampau, menyerang lantang pemerintahan Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi.
Mahathir hari Senin mengatakan bersedia bertemu kembali dengan pemimpin pejuang.
"Jika tanya meminta saya, mau berbicara dengan saya, mau bertemu, maka saya akan bertemu. Saya tidak akan mengumumkan atau apa pun seperti itu," katanya.
Dua orang tewas tertembak tepat saat peringatan tiga tahun kemelut di kawasan Thailand selatan.
Polisi hari Kamis menyatakan kedua korban itu ditembak pejuang di Narathiwat, satu dari tiga provinsi selatan dengan sebagian warganya Melayu dan dilanda sengketa tersebut.
Seorang pria Buda (19 tahun) ditembak pada Kamis siang oleh orang bermobil.
Hari sebelumnya, seorang warga desa Muslim dibunuh sekolompok orang bersenjata, yang belum diketahui jatidirinya.
Sementara itu, pada Rabu pagi, para biksu berkumpul di sebuah pangkalan tentara di Narathiwat, yang pada 4 Januari 2004 diserang kelompok bersenjata, yang memicu gerakan pemberontakan hingga saat ini.
Orang memberikan derma kepada biksu itu, yang mendoakan empat tentara terbunuh ketika itu.
Serangan terhadap warga terus meningkat, meskipun ada upaya membangun perdamaian oleh pemerintahan baru di negara tersebut.
Seorang pemimpin terkemuka Melayu setempat, yang terkenal akan sikap kerasnya terhadap ekstrimisme, ditembak mati di bagian selatan Thailand.
Kawee Prachumkayohmas (55 tahun) ditembak empat kali dalam serangan Selasa malam pekan lalu ketika meninggalkan pemakaman tempat berdoa pada hari besar agama.
Ia adalah pemimpin desa Bacho di propinsi Narathiwat dan dikenal akan penentangan kerasnya pada perlawanan pemberontak, yang dimulai tiga tahun lalu.
Wilayah berbatasan dengan Malaysia itu merupakan kesultanan mandiri hingga dicaplok Thailand pada 1902 dan kerusuhan membara sejak itu.
Kekerasan itu memaksa 944 sekolah ditutup sementara bulan November setelah serangkaian pembakaran dan penembakan, yang menyebabkan dua guru tewas.
Pemerintah Thailand, yang berkuasa setelah kudeta tak berdarah bulan September, menawarkan sejumlah usul dalam usaha mewujudkan perdamaian di wilayah itu, tapi serangan menelan korban jiwa terus berlangsung di provinsi Yala, Narathiweat dan Pattani tersebut. (*/lpk)