"Semua akan dibahas, yang jelas rotan asalan atau setengah jadi harus tetap dicari solusinya karena tidak semua produksi terserap di dalam negeri," kata Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Departemen Perdagangan, Hartojo Agus Tjahyono, di Jakarta, Selasa.
Salah satu jenis rotan asalan yang tidak digunakan oleh industri produk rotan dalam negeri adalah dari jenis taman sega irit dari Kalimantan.
Asosiasi Permebelan Indonesia (Asmindo) dikabarkan berencana menjalin kerjasama dengan pengusaha Cina untuk rotan yang tidak digunakan di Indonesia.
Agus menjelaskan evaluasi aturan ekspor rotan tersebut bertujuan untuk mendorong ekspor produk rotan agar meningkat nilai tambahnya.
"Visinya mendorong produk rotan agar dapat value yang lebih tinggi. Untuk itu pihaknya bersama Asmindo menggarap pasar di Afsel, dan Eropa timur," katanya.
Berdasarkan catatan Depdag selama 2006, ekspor rotan asalan dari jenis taman/irit hanya 14.151 ton sementara alokasinya 19.961 ton dan ketersediaannya sekitar 25 ribu ton.
Ekspor rotan setengah jadi jenis tersebut hanya 2.588 ton sedangkan alokasinya 6.523 dan ketersediaannya mencapai 16ribu ton.
Sementara untuk rotan setengah jadi dari Sulawesi ekspornya hanya 634 ton sementara alokasinya 2.541 ton dan diperkirakan tersedia sebanyak 25.200 ton. Sedangkan ekspor rotan setengah jadi dari luar Sulawesi yang ketersediaannya mencapai 10.800 ton hanya diekspor 1.288 ton sementara alokasinya 2.883 ton.
Ekspor furnitur dari rotan juga mengalami sedikit penurunan (3,18 %) karena permintaan dunia yang juga menurun. (*/rsd)