< >

Ekspor Ikan Dalam Kaleng Terus Naik

Rabu, 10 Januari 2007 14:10
Kapanlagi.com - Realisasi ekspor ikan dalam kemasan kaleng produksi Bali meningkat cukup kondusif sejalan dengan bertambah banyaknya ikan lemuru hasil tangkapan nelayan di selat Bali.

"Pengapalan hasil industri pengalengan itu bulan terakhir tercatat sebanyak 221 ton sehingga seluruhnya sebanyak 1.578 ton seharga US$ 4,2 juta selama Januari-September 2006," kata laporan Disperindag Bali, di Denpasar, Rabu.

Ikan lemuru hasil tangkapan nelayan yang dijual lewat tempat pelelangan ikan (TPI) Pengambengan Kabupaten Jembrana, bahan baku pabrik pengalengan tersebut bertambah terus dari 162 ton Januari menjadi 223 ton Pebruari 2006.

Angka itu bertambah lagi menjadi 303 ton Mei dan Oktober melonjak drastis menjadi 1.295 ton, sehingga produksi seluruhnya selama 2006 tercatat 4.414 ton, maka ini merupakan salah satu menyebabkan ekspor ikan kaleng naik.

Perdagangan itu cukup menggembirakan, sebab sebelumnya pernah ekspor ikan dalam kemasan kaleng menghilang dari daftar perolehan devisa nonmigas Bali. Ini bukan berarti usaha industrinya tidak berproduksi,

Industri pengalengan ikan di Bali, terpusat di Kabupaten Jembrana, 80 Km barat Denpasar, masih tetap berproduksi bahkan volumenya meningkat, namun realisasi ekspornya kemungkinan lewat Jawa Timur sehingga pemasukan devisanya tercatat di sana.

Ikan dalam kemasan kaleng produksi daerah ini, mampu memenuhi permintaan pasar luar negeri terutama dari konsumen asal AS, Jepang, Taiwan, Singapura dan realisasi ekspornya diharapkan bertambah terus setiap tahunnya.

Sementara pengumpulan devisa khusus dari sektor perikanan Bali secara keseluruhan hanya mampu mencapai angka US$ 40,5 juta, angka itu persis sama dengan tahun lalu, atau 12 % dari ekspor nonmigas Bali.

Pengumpulan devisa sebanyak itu dari hasil pengapalan tuna segar maupun yang sudah dibekukan merupakan yang terbesar yakni US$ 28,5 juta menyusul kerapu US$ 7,5 juta dan ikan hias hidup mencapai seharga US$ 1,7 juta.

Perdagangan hasil laut ini, merupakan salah satu tulangpunggung perolehan devisa Bali selain pakaian jadi (garmen) dan hasil kerajinan buatan masyarakat setempat, sedangkan yang terkecil menyumbangkan devisa adalah hasil perkebunan. (*/rsd)