Salah satu perusahaan di kawasan PPS Kendari, Direktur PT Sultratuna Samudra, Suwondo Wijaya, di Kendari, Rabu, mengatakan, pihaknya rata-rata mengekspor hasil perikanan selama dua tahun terakhir (2005-2006) hanya berkisar antara 200-250 ton per bulan atau antara 2.500 ton hingga 3.000 ton per tahun dengan tujuan Jepang, Hongkong dan Amerika Serikat.
"Dari Jumlah keseluruhan ekspor perikanan itu, sekitar 75 % diantaranya adalah jenis gurita, sementara sisanya adalah merupakan ikan tuna, cakalang dan ikan campuran," katanya.
Ia mengatakan, jenis gurita yang mendominasi ekspor selama dua tahun ini karena selain bahan bakunya masih mudah diperoleh para nelayan lokal juga harga di pasaran dunia masih cukup tinggi ketimbang dengan harga ikan cakalang atau tuna.
"Saat ini, harga pembelian gurita di tingkat nelayan lokal masih berkisar antara Rp3.500-Rp4.000/kg sementara, harga dipasaran dunia berkisar antara Rp12.500-Rp13.000/kg," katanya.
Negara yang paling menyukai gurita produk Indonesia adalah Amerika dan Jepang. Hanya bedanya, di Jepang diekspor dalam bentuk bahan baku mentah (belum diolah) sementara permintaan pasar Amerika harus direbus lebih dulu lalu dikelola dan bungkus (packing) dalam ukuran-ukuran tertentu mulai dari 0,5 kg, 1 kg hinga ada yang mencapai 5 kg.
Menurut Suwondo, sebenarnya permintaan ikan tuna, cakalang dan ikan kakap di negara Asia dan Eropa cukup besar, namun karena bahan baku lokal sudah mulai berkurang sehingga pihaknya selama hampir dua tahun ini memfokuskan hampir 75 % untuk komoditi gurita.
Apalagi, para nelayan, sudah sulit untuk memperoleh ikan di perairan laut Sultra kecuali mereka harus melaut ke parairan Sulawesi Tengah (Sulteng) hingga ke laut Arafura dan NTT.
Mengenai kondisi cuaca yang akhir-akhir ini masih kurang bersahabat, Suwondo mengatakan, itu merupakan hal yang biasa dan bagi nelayan di Sultra, tetap saja melaut namun hanya pada kawasan perairan laut yang ombaknya tidak begitu besar.
"Perairan laut di Sultra cukup banyak terdapat teluk dan ombaknya tidak terlalu besar sehingga nelayan masih tetap ada yang melaut meskipun hasil tangkapannya tidak maksimal," katanya.
Data dari Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari mencatat bahwa pemasaran hasil perikanan (domestik) pada tahun 2006 mencapai 5.203 ton atau mengalami kenaikan sekitar 1,62 % dibanding tahun 2005 yang mencapai 5.120 ton dengan nilai Rp69,9 miliar atau naik 76,44 % dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp39,621 miliar.
Sementara ekspor mengalami penurunan sekitar 9,96 % dari volume 1.425 ton tahun 2006 dan pada tahun 2005 mencapai 1.567 ton. Namun dari sisi nilainya, justru mengalami kenaikan 54,63 % yakni dari Rp58,856 miliar naik menjadi Rp91,011 miliar. (*/rsd)