Pendapat tersebut dikemukakan oleh Nurhayati Asegaff, pengamat media di Jakarta, Kamis (11/01), mengenai pengembalian piala Citra oleh sebagian insan film Indonesia sebagai wujud protes mereka terhadap kemenangan film layar lebar EKSKUL.
Nurhayati, sarjana komunikasi yang sekarang berdinas sebagai staf khusus ibu negara RI itu mengemukakan bahwa penjiplakan adalah perbuatan yang tidak mulia dan harus dihidari, bukan hanya untuk kasus film tersebut melainkan untuk semua bidang.
"Jika menyadur, sebaiknya dengan terus terang dicantumkan asal sadurannya, itu lebih bisa dihargai," katanya.
Sejumlah insan film mengembalikan Piala Citra dari FFI tahun 2004, 2005 dan 2006 sebagai wujud protes terhadap kemenangan film layar lebar EKSKUL yang dituding mengandung aspek penjiplakan pada musik ilustrasinya.
Belakangan juga beredar tudingan bahwa cerita film tersebut tidak orisinal melainkan menjiplak film India dan ada pula yang menyebutnya menjiplak film Jepang.
"Penjiplakan karya seni seperti ini sudah sering diperbincangkan misalnya banyak film-film drama televisi Jepang, India, Korea dan Taiwan yang dijiplak oleh orang Indonesia tetapi tidak pernah dipermasalahkan," katanya. (*/rit)