"Semua komponen film mendukung perubahan. Kita ingin perubahan tersebut berjalan lebih cepat," ujar dia dalam launching pembuatan novel Nagabonar Jadi Dua di Jakarta, Rabu (10/1) malam.
Dia mengatakan, Film EKSKUL bukan menjadi faktor utama yang menggerakkan para senias muda mengajukan usulan perubahan pada Undang-Undang Perfilman yang ada saat ini.
Pengajuan enam usulan kepada Menteri Budaya dan Pariwisata, Jero Wacik, pada Selasa (9/1), sekaligus penyerahan 30 Piala Citra, menurut Deddy, hanyalah usaha mempercepat perubahan dalam perfilman Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Deddy kembali mengatakan bahwa Piala Citra tidak dikembalikan, hanya diserahkan saja, karena bukan Menbudpar yang memberikan piala tersebut, tetapi Festival Film Indonesia (FFI).
Saat ditanya wartawan apa perbedaan film jaman dulu dan sekarang, Deddy mengatakan, tidak ada perbedaan yang berarti, karena itu sudah selayaknya perlu ada perubahan sesuai dengan perubahan jaman.
Deddy mengharapkan akan ada reformasi perfilman setelah para sineas Indonesia bergerak melakukan penyerahan 30 Piala Citra dan enam usulan kepada Menbudpar.
Sementara itu, Menbudpar Jero Wacik mengatakan, tidak akan ada pemboikotan terhadap FFI karena dia akan menindaklanjuti usulan para sineas tersebut.
"Kalau tidak ditindaklanjuti baru diboikot, tapi saat ini usulan tersebut sedang kita tindak lanjuti," ujar dia setelah peluncuran 'Festival Tabot' di Kementerian Budpar, Jakarta, Rabu.
Mengenai permintaan pencabutan film EKSKUL yang menjadi film terbaik FFI 2006, Jero Wacik mengatakan, bukan dia yang harus membuat keputusan, tetapi juri yang telah memberi penilaian.
Dalam kesempatan yang sama dia juga mengatakan FFI tidak boleh berhenti karena festival merupakan alat ukur baik buruknya perfilman Indonesia. (*/bun)















