"Kami optimis ekspor karet Indonesia di tahun 2007 akan tetap besar mengingat ada perkiraan kalau permintaan karet dunia akan tetap tinggi," katanya di Jakarta, Kamis (11/01).
Ia mengatakan, sesuai dengan hasil penelitian International Rubber Study Group (IRSG) di bulan November 2006, pertumbuhan permintaan akan karet dunia di tahun 2007 akan mencapai 6,2% atau meningkat dibandingkan tahun 2006 yang mencapai 2,1%.
Ia mencontohkan, permintaan karet Amerika Serikat (AS) termasuk Kanada tahun 2007 akan meningkat 4,1% dari perkiraan tahun 2006 yang hanya -1,4% bila dibandingkan tahun 2005.
"Hal itu dimungkinkan karena perekonomian AS sudah mulai pulih sejak semester akhir 2006, dan memang diharapkan terus membaik," katanya.
Sedangkan permintaan di kawasan Asia Pasific, kata Suharto, diperkirakan akan mencapai 7,7% dibandingkan perkiraan 2006 yang hanya 4,9% dan diperkirakan ada peningkatan permintaan dari negara-negara di kawasan Eropa Timur.
Selain perkiraan dari IRSG itu, Suharto mengatakan, adanya kenaikan volume ekspor di tahun 2006 dibandingkan 2005 juga menjadi optimisme meningkatnya ekspor karet Indonesia di tahun 2007.
Ia mengatakan ekspor karet Indonesia para periode Januari-September 2006 sebesar 1,737 juta ton, atau naik sebesar 18,34% dibandingkan periode sama tahun 2005 yakni 1,468 juta ton.
"Nilai ekspor pada periode itu mencapai US$3,30 miliar, dan masih ada sekitar tiga bulan lagi yakni Oktober, November, dan Desember yang belum dihitung, mudah-mudahan tetap bagus," katanya.
Menyoal tentang harga karet ekspor itu, Suharto mengatakan pihak tetap berharap harganya stabil yakni berada pada kisaran US$1,70 sampai US$1,90 per kg.
Membuka Pasar Baru
Sementara itu, Suharto juga mengungkapkan GAPKINDO rencananya di tahun 2007 akan membuka pasar baru karet Indonesia ke Iran, Turki, dan negara-negara di kawasan Eropa Timur serta Amerika Tengah disamping tetap memertahankan pasar tradisional karet alam Indonesia seperti AS, Jepang, China, Korea Selatan, dan Jerman.
"Kita akan mulai melakukan kunjungan dan misi dagang untuk membuka pasar karet di negara-negara tersebut untuk meningkatkan ekspor karet," katanya.
Selain itu, Suharto mengatakan, sesuai dengan hasil dialog Asian Rubber Bussiness Council (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura dan Vietnam) dengan China pada 15 Desember 2006, menghasilkan kesepakatan kalau China akan mendirikan Comitte on Rubber Trading (CRT).
Ia mengatakan dengan adanya CRT ini maka perdagangan karet ke China akan semakin adil (fair) karena selama ini para pengusaha China selalu menekan para pengusaha di Indonesia.
"Mereka selalu mendesak kita untuk segera mengirimkan karet yang dibelinya bila harga sedang naik, sedangkan pada saat harga turun, mereka dengan seenanknya membatalkan transaksi," katanya.
Ia mengatakan CRT ini akan berada di bawah pengawasan Chineese Chamber for International Commerce (Seperti KADIN di Indonesia) yang akan menjalankan tugas pengawasan dan akan dibuat konsep-konsep kontrak arbitrase.
"Jadi bila sudah ada CRT itu, maka tingkat kepercayaan pengusaha karet Indonesia akan meningkat bila ingin berdagang dengan China sehingga akan meningkatkan ekspor karet Indonesia," katanya. (*/lpk)