
"Saya ingin meunjukkan bahwa bermain teater itu bukan hanya diwakili oleh kalangan artis dan orang dewasa, tetapi siswa SMP juga bisa bermain teater," kata Garin saat memberikan keterangan pers di Sekolah Labschool, Jakarta, Rabu (10/1).
Menurut Garin, seharusnya para orang tua dan siswa tidak memandang teater sebagai kesenian tradisional, karena di luar negeri teater lebih maju dan lebih diminati. Tetapi, di Indonesia malah sebaliknya. Teater dianggap kuno dan hanya ditonton oleh seniman.
"Kita harapkan sekolah sudah saatnya cinta akan budaya, salah satunya teater. Karena dengan teater akan melatih siswa untuk peka," katanya.
Pada pementasan 'Si Tomboy dan Putri Bungsu' kali ini, Garin mencoba mengangkat budaya Betawi dan budaya Minang. Dimana dua daerah tersebut sangat kaya dengan budaya tari. Bahkan, Betawi dianggap sebagai budaya nasional Jawa Barat. Begitu juga dengan budaya Minang, masyarakat Minang sangat konsisten dengan kebudayaannya.
"Bangsa kita kaya dengan budaya, sayangnya budaya tersebut tidak pernah dipelajari oleh siswa SD-SMP, sehingga budaya daerah hilang begitu saja, dan nasionalisme Indonesia hancur karena globalisasi," imbuhnya. (kl/iin)