
Tak ayal, ketidakdatangan perwakilan Masyarakat Film Indonesia, BP2N, dan Shanker, menimbulkan kekecewaan beberapa pelaku perfilman lainnya, termasuk Rano Karno.
"Sebetulnya saya sangat sedih sekali dengan keadaan seperti ini. Di saat saya akan meninggalkan dunia film, permasalahan semacam ini malahan muncul. Sebenarnya masalah ini hanya masalah kompromi, yang tua mendengarkan yang muda, yang muda juga mendengarkan yang tua," ujar Rano Karno.
Tanpa bisa menyembunyikan rasa kecewanya, Bang Doel, demikian bisanya dia disapa, mengungkapkan, dalam setiap penyelenggaraan FFI selalu timbul kontroversi, dan ini lumrah saja.
"Kalau ini bentuknya untuk memperbaiki perfilman nasional, bagus," katanya. "Tanpa harus menonjolkan kepentingan kelompok."
"Yang saya tidak setujui adalah pembubaran lembaga film yang dibentuk sejak 54 tahun lalu dan selalu beriringan sejalan dengan jalannya bangsa ini," imbuhnya.
Putra mendiang Soekarno M. Noer, ini juga tidak sejalan dengan sikap beberapa peraih Piala Citra yang mengembalikan penghargaan yang telah diraihnya itu.
"Mengembalikan Piala Citra merupakan kejadian yang luar biasa. Selama 30 tahun saya berkiprah disini, salah satu tujuan saya adalah Piala Citra. Ini yang membuat saya lebih sedih dan kecewa," pungkas Bang Doel. (kl/wwn)