< >

Target Ekspor Karet Sumut Tahun 2006 Tercapai

Jum'at, 12 Januari 2007 22:32
Kapanlagi.com - Target ekspor karet Sumut sebesar 510.000 ton pada tahun 2006 diperkirakan terlampaui menyusul hingga bulan November tahun itu pengapalan komoditi sudah mencapai 472.860 ton.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Syarbaini Zain, di Medan, Jumat, mengatakan tiap bulan ekspor karet Sumut rata-rata mencapai 40.000 hingga 50.000 ton.

"Dengan perhitungan masih ada ekspor pada bulan Desember minimal 40 ribu ton, maka diperkirakan total eskpor karet Sumut tahun ini mencapai 510 ribuan ton," katanya.

Tahun lalu, ekspor karet Sumut masih 490.000 ton. Sementara tahun ini, katanya, Sumut menargetkan ekspor karetnya minimal naik lima persen dari target tahun ini atau mencapai 535.000 ton.

Peningkatan target ekspor tahun 2007 mengacu pada prakiraan permintaan karet ke Sumut akan meningkat lagi khususnya dari pembeli AS dan China.

"Selain volumenya naik, devisa dari ekspor karet itu tahun ini juga diperkirakan meningkat karena harga jual diperkirakan naik lagi," katanya.

Asumsi menguatnya lagi harga karet itu sudah tercermin dari awal tahun ini. Harga jual karet pekan ini mencapai US$1,87 per kg, setelah akhir tahun 2006 sedikit tertekan akibat harga minyak bumi yang turun.

Harga jual karet yang menguat pada tahun ini dipicu oleh ketatnya pasokan di pasar internasional akibat produksi di berbagai sentra di Indonesia, Malaysia, dan Thailand mengalami penurunan akibat musim hujan.

Produksi yang ketat di Indonesia, misalnya, mengakibatkan ekspor karet dari dalam negeri terbatas jumlahnya dan membuat harga bahan olah karet (Bokar) mahal atau paling mutah Rp13.800 per kg.

Dia mengakui, volume ekspor karet Sumut tiap tahunnya selalu berada diatas produksi yang dihasilkan daerah itu yang hanya berkisar 400 ribu ton setiap tahunnya.

Sebagian karet yang diekspor Sumut lewat Pelabuhan Belawan merupakan 'barang' dari NAD, Riau, Jambi dan kadang-kadang dari Kalimantan Timur yang dipasok eksportir daerah itu untuk memenuhi kontrak dagang dengan importir.

Eksportir karet Sumut, Tjoe Min Fat, mengatakan, pabrikan ban di luar negeri masih mengandalkan karet alam untuk pembuatan bannya, meski ada kalanya industri itu menggunakan karet sintetis.

Penggunaan karet alam semakin besar karena pasar meminta kualitas ban yang diperdagangkan semakin ditingkatkan.

"Prospek pasar karet alam masih cukup besar, dan itu harus dimanfaatkan Indonesia yang merupakan salah satu negara penghasil karet terbesar dunia," katanya. (*/lpk)


BERITA TERKAIT