Jumlah kasus HIV/AIDS di Mimika tersebut merupakan yang tertinggi di Papua, sehingga Dinkes-KB Mimika secara terus-menerus mengimbau semua komponen masyarakat setempat agar bahu-membahu memerangi penyakit yang mematikan itu, kata Kepala Dinkes-KB Kabupaten Mimika, Erens Meokbun melalui Kepala Sub Dinas Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2M&PL), Saiful Taqin SKM, Senin (15/1).
Dia mengakui kalau pemerintah daerah Mimika tidak bisa bekerja sendiri untuk memerangi HIV/AIDS itu. Saat ini Mimika 'menyumbang' 45% dari total kasus HIV/AIDS di Papua dan Irian Jaya Barat, sehingga perlu adanya kesadaran bersama dari semua pihak, baik lembaga keagamaan, lembaga adat, LSM, sekolah-sekolah maupun warga masyarakat sendiri untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit itu.
Langkah konkret yang telah dilakukan oleh Dinkes-KB Mimika bekerja sama dengan Komisi Peduli Aids Daerah (KPAD), dan LSM Peduli AIDS selama ini baru sebatas upaya promotif berupa penyuluhan-penyuluhan langsung kepada masyarakat maupun melalui media massa, dan upaya kuratif.
KPAD Mimika juga telah menggelar pawai massal keliling kota Timika yang diikuti Lebih dari seribu warga setempat ketika digelar peringatan Hari AIDS se-dunia, 1 Desember 2006 lalu.
Data Dinkes dan KB Kabupaten Mimika menjelaskan, kasus HIV/AIDS di Mimika untuk pertama kali ditemukan sekitar tahun 1997 dengan satu kasus.
Kasus ini terus meningkat dan mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun belakangan seiring dengan semakin maraknya tempat-tempat praktek prostitusi, baik legal di lokalisasi Kilometer 10 Kampung Kadun Jaya Distrik Mimika Timur, maupun ilegal di berbagai panti pijat, pub dan diskotik. (*/bun)