"Sudah ketiga kali dirasuki roh Maria Toliu dengan pesan sama, pesawat Adam Air tidak jatuh di tengah laut, tetapi di suatu lembah ada sungai mengalir ke arah pantai, "kata Viani Toliu, Selasa (16/1), di Manado, Sulawesi Utara.
Sungai tersebut tidak jauh dari lokasi dimana serpihan pesawat ditemukan, maka Tim SAR diminta menyusuri sungai tersebut terdapat badan pesawat bersama seluruh penumpang.
"Kerasukan terakhir Senin (15/1) malam sekitar pukul 19.00 Wita, pesannya sama memberi tahu lokasi bukan di tengah laut tetapi di sungai, bahkan dalam kerasukan terakhir, Maria Toliu, mengaku sudah kedinginan karena belum dapat digapai Tim SAR," kata Viani.
Suara mirip, Maria Toliu, mengatakan, serpihan yang ditemukan nelayan dan Tim SAR di Majene dan Pare-Pare Sulawesi Selatan (Sulsel) hanya bawaan air sungai, tidak berasal dari tengah laut seperti selama ini dikira.
"Kapanpun, korban tidak akan ditemukan, karena pesawat tidak tenggelam di tengah laut, tetapi di pinggiran sungai yang airnya mengalir ke laut," kata Viani meniru dikatakan sang kakak.
Hanya, menggapai daerah tersebut tidak sembarangan, karena harus dilakukan upacara adat sesuai daerah lokasi jatuhnya pesawat tersebut, kata Viani, menirukan pesan dalam suara kerasukan.
Ini peristiwa magis, tetapi karena terjadi berulang kali, diminta kepada Tim SAR agar mencoba menyusuri sungai-sungai di kawasan Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, terutama dimana serpihan pesawat ditemukan.
Maria Toliu dikenal sebagai Kepala Sekolah Luar Biasa di Tomohon, merupakan korban hilang bersama dua anaknya Stevanus Gatuwati, siswa SMA Rex Mundi Manado dan Ignatia Gatuwati, Siswa SMP Bunda Hati Kudus Woloan, dalam penerbangan KI 574 Boeing 737-400 Adam Air rute Surabaya-Manado tanggal 1 Januari 2007. (*/bun)