Hanya saja pencegahan flu burung jangan sampai mengorbankan ternak rakyat, karena selama puluhan tahun usaha ternak skala kecil menjadi sumber penghidupan masyarakat bawah.
Akan tetapi, kata penemu ramuan penangkal virus flu burung itu, kekeliruan penanganan bisa mengakibatkan usaha ternak kecil jadi korban.
Ia memberi contoh, kesalahan informasi akibat menduga seseorang terinfeksi virus AI setelah kontak dengan unggas pada peternakan di Desa Beji, Kabupaten Boyolali beberapa waktu lalu, menyebabkan 5.600 burung puyuh harus dimusnahkan.
Padahal, katanya, sebenarnya orang yang mengalami gejala panas dan demam itu bukan lantaran terinfeksi virus flu burung, melainkan karena gejala demam berdarah. "Jadi harus diteliti dulu untuk mendapat kepastian penyebabnya," katanya.
Menurut dia, untuk mencegah penyebaran dan penularan virus flu burung setidaknya ada tiga langkah yang harus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak termasuk pemerintah.
Ketiga langkah antisipatif tersebut adalah penyemprotan dengan desinfektan ke seluruh kandang unggas di sebuah desa, penyuntikan dengan vaksin untuk unggas-unggas dewasa dan sehat, dan langkah ketiga memberi ramuan herbal penangkal virus flu burung pada unggas kecil.
"Unggas kecil, seperti burung kicau dan hias serta ayam yang masih kecil tidak mungkin dilakukan penyuntikan dengan vaksin, karena itu diberikan ramuan herbal," katanya.
Sumardi adalah penemu ramuan herbal penangkal virus flu burung pada unggas dengan merek dagang Vet-I. (*/rsd)