"Gedung itu dipadukan dengan Play Group dan TK Dharma Wanita ITS yang berada di bagian selatan-timur kampus," ujar Pembantu Rektor (PR) II ITS, Ir Syarief Widjaja PhD, di Surabaya, Selasa.
Ia menjelaskan, gedung berlantai dua yang peletakan batu pertamanya dilakukan Rektor ITS Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA, Rabu (17/1) itu menggunakan dana hibah dari hasil kerjasama ITS dengan dua perusahaan seluler.
"Gedung bantuan dari dua perusahaan seluler yang akan menempatkan antena atau BTS-nya di lingkungan kampus ITS itu, telah disiapkan Tim Master Plan ITS dan akan mulai dikerjakan dalam waktu tiga bulan ke depan," paparnya.
Sementara itu, Ketua Dharma Wanita Persatuan ITS, drg Lily M. Nuh, menjelaskan, gedung dharma wanita itu dilengkapi dengan fasilitas tempat penitipan anak, karena banyak warga ITS sebagai keluarga muda yang suami-isterinya bekerja.
"Kami berpikir untuk meraih kesuksesan di rumah dan di tempat kerja dalam membesarkan anak-anak, maka dibutuhkan tempat penitipan anak, sehingga orang tua bisa bekerja dengan baik dan berprestasi," katanya.
Dengan adanya TPA, katanya, nantinya orang tua tidak khawatir lagi untuk meninggalkan putra-putrinya untuk bekerja, karena memang TPA itu dikelola dengan profesional dan dilengkapi berbagai kebutuhan untuk anak-anak sesuai dengan tingkatan usianya.
"Harapan lainnya melalui TPA itu, warga ITS yang memiliki anak balita tidak kerepotan dengan urusan mendidik anak-anak selama ditinggal bekerja atau setelah pulang sekolah. Konsepnya memang kami dekatkan dengan Play Group dan TK Dharma Wanita ITS, agar jika setelah aktivitas sekolah tidak ada yang bisa menjaga di rumah bisa dititipkan di TPA," katanya.
Selain itu, katanya, melalui TPA juga diharapkan interaksi dan kekeluargaan sesama warga ITS akan makin tumbuh, baik karena memang TPA itu disiapkan khusus untuk warga dalam hal ini karyawan dan dosen ITS, tidak untuk masyarakat umum.
Senada dengan itu, Rektor ITS Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA menjelaskan, ITS tidak ingin memandang dikotomi antara meninggalkan pekerjaan atau mengurus anak, tapi bagaimana kedua-duanya dapat berjalan dengan baik, karena itulah dibutuhkan TPA.
"Melalui TPA itu mudah-mudahan keberadaan dharma wanita sebagai sebuah organisasi kekeluargaan akan makin bermanfaat, baik bagi ITS sebagai institusi maupun ITS sebagai sebuah society," kilahnya. (*/rsd)