< >

Sangihe Butuh Rp129,5 Miliar Rehabilitasi Pasca Bencana

Kamis, 18 Januari 2007 14:02
Kapanlagi.com - Kabupaten Sangihe memerlukan dana sekitar Rp129,5 miliar guna merehabilitasi berbagai kerusakan pasca bencana alam tanah longsor dan banjir bandang pada hari Kamis (11/1).

Bupati Sangihe Winuslangi Salindeho mengatakan, penanganan rehabilitasi tersebut dilakukan dalam program super priotas atau mendesak, jangka pendek dan jangka menengah.

Program mendesak perlu ditangani secapatnya membutuhkan dana sekitar Rp29,5 miliar, kata Mantan Sekretaris Daerah Kota Manado itu.

Dia mengatakan, sejumlah program prioritas itu, antara lain pembangunan barak pengungsi, perbaikan jalan maupun jembatan putus, fasilitas kesehatan, pembangunan jalur ekonomi masyarakat.

Ada sejumlah jalan maupun jembatan putus akibat bencana alam itu, sehingga mengganggu perekonomian masyarakat di daerah kepulauan itu, antara lain Jembatan Malebur I dan Jembatan Malebur II menghubungkan Kota Tahuna dan sejumlah daerah seperti Kendahe.

Program jangka pendek adalah untuk pelaksanaan relokasi bagi warga korban bencana ketempat-tempat aman, katanya sambil menambahkan, kebutuhan dana itu telah dilaporkan kepada Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Sinyo Sarundajang saat melakukan kunjungan ke Sangihe, Rabu (17/1).

Sementara itu, Sekretaris Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB), Jhony Baleheno mengatakan, akibat tanah longsor dan banjir bandang tersebut selain telah menelan korban jiwa manusia serta kerusakan berbagai infratsruktur dan sejumlah bangunan milik masyarakat maupun pemerintah.

Setiap harinya sekitar 2.000 warga dari berbagai kecamatan di kabupaten itu dikerahkan untuk membersihkan lumpur yang menutupi sejumlah ruas jalan di ibukota Sangihe tersebut serta selokan.

Hari ini masyarakat dari tiga Kecamatan Manganitu Selatan, Tabukan Selatan dan Kendahe turun ke Tahuna untuk membantu melakukan pembersihan Tahuna, ibukota Kabupaten Sangihe.

Bencana alam itu melanda di Kecamatan Tahuna, Tahuna Timur, Tabukan Utara dan Kecamatan Nusa Tabukan, membuat sekitar 933 kepala keluarga atau 3.990 jiwa diungsikan pada sejumlah lokasi seperti sekolah, tempat-tempat ibadah dan tenda-tenda dibangun pemerintah setempat.

Pemerintah terus memberikan bantuan logistik seperti beras, gula, kopi, mi instan, ikan kaleng kepada korban bencana alam itu, kebutuhan logistik sampai saat ini terus disalurkan kepada pemerintah kabupaten.

Sementara sesuai data diperoleh dari Kepala Biro Sosial Kantor Gubernur Sulut, Frans Wagey bahwa korban meninggal dunia telah mencapai 32 orang, antara lain Fitry Pampang, Darius Liroga, Yus Lahengko, Margaretha Lahengko, Noprisia Lahengko, Johanis Lahengko, Inka Aloanis, Syanet Mandalika.

Yodi Salamisi, Hamzah Talib, Fatima Talib, Ibrahim Usman, Masrul Usman, Astrus Usman, Cici Untu, Farida Usman, Udin Untu, Siti Parasana, Vebri David, Hoger David, Nona David.

Sedangkan warga hilang dan masih dicari Tim SAR dua orang diduga tertimbun tanah longsor atau terbawa banjir bandang. (*/rsd)


BERITA TERKAIT