"Pena wartawan lebih tajam dari bayonet serdadu, sehingga media berperan strategis dalam menciptakan perdamaian," kata Wapres Jusuf Kalla di Jimbaran, Bali, Minggu (21/01).
Ketika membuka Pertemuan Internasional Bali Global Forum yang melibatkan sekitar 300 peserta dari 30 negara di belahan dunia, Wapres Jusuf Kalla menilai dampak dari penyiaran atau pemberitaan dan SMS lebih kuat dibanding kemampuan tank-tank pertahanan keamanan.
Pemberitaan dari media massa dan elektronik memberikan pengaruh besar dalam mewujudkan perdamaian, maupun sebaliknya. Oleh sebab itu Pers hendaknya mampu mendorong terciptanya perdamaian dan dialog antar umat beragama, harap Wapres Jusuf Kalla.
Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan A. Djalil menjelaskan, pertemuan yang diselenggarakan UNESCO bekerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk mengidentifikasi parameter praktis yang dapat memberikan manfaat bagi media massa maupun perangkat komunikasi dan informasi.
Hal itu dimaksudkan untuk memperoleh kebebasan mengakses informasi, kemampuan menggunakan media massa dan perangkat informasi komunikasi dalam mewujudkan perdamaian.
Di era teknologi dan informasi dewasa ini memiliki peluang untuk menemukan cara-cara praktis menggunakan perangkat komuniksi dan informasi dalam menyampaikan pernyatan dan berbagai kehidupan yang penuh keanekaragaman untuk perdamaian.
Indonesia sendiri memanfaatkan kesempatan tersebut untuk promosi pariwisata dan budaya bangsa lewat prakarsa "Bali Landscape" dengan harapan bisa dimasukan dalam Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage), kata Sofyan A. Djalil.
Sejumlah panelis internasional akan tampil sebagai pembicara dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga hari, 20-23 Januari 2007, termasuk diantaranya tuan rumah Indonesia.
Pembicara dari Indonesia antara lain mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas, Pakar Telekomunikasi yang juga mantan rektor ITB Prof Dr Ir Iskandar Alisyahbana, Pemimpin Umum Harian Kompas Dr (HC) Jakob Oetama serta intelektual Islam yang juga mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah.
Bali Global Forum merupakan tindak lanjut dari hasil sidang Umum UNESCO ke-22 di Paris 10 Oktober 2005 serta diskusi antara Delegasi Indonesia dengan UNESCO pada sidang Intergovermental Council for the information All Programe (IC-IFAP) UNESCO ke-4 di Paris Maret 2006.
Dalam pertemuan kali ini peserta luar negeri juga dari kalangan media cetak dan penyiaran antara lain CNN, Al Jazeera, LSM internasional, organisasi keagamaan serta universitas dan lembaga penelitian dengan berbagai profesi.
Mereka antara lain pemenang nobel, eksekutif bisnis, industri, profesor, aktivis politik, jurnalis, pemimpin organisasi, pimpinan agama, duta besar dan pimpinan militer.
Sedangkan peserta dalam negeri antara lain praktisi media (media cetak, penyiaran dan ICT), perwakilan media cetak dan penyiaran luar negeri. (*/rit)