"Pada pascagempa 27 Mei 2006 sebagian dari kami menjalin kerjasama dengan anggota HIPMI provinsi lain untuk memproduksi barang pesanan kecuali produk kerajinan tangan, sehingga kepercayaan `buyer` terhadap kami tetap terjaga," kata Ketua Umum HIPMI DIY Iwan Kurniawan, Senin.
Misalnya, kerjasama dilakukan dengan pengusaha di Jawa Barat yang menghasilkan produk serupa seperti garmen yang tidak bisa diproduksi pengusaha DIY pada pascagempa, agar pesanan dapat terpenuhi.
"Setelah terjadi gempa pesanan tidak terhenti, dan kami menyiasatinya melalui kerjasama dengan pengusaha di provinsi lain untuk memenuhi pesanan tersebut," katanya.
Menurut dia, cara itu ditempuh untuk menjaga kepercayaan pembeli terhadap pengusaha muda di DIY khususnya anggota HIPMI.
Iwan menyebutkan sekitar 10 persen dari sekitar 300 anggota HIPMI DIY melakukan kerjasama tersebut. "Langkah ini kami lakukan pada tiga bulan pertama pascagempa, karena setelah itu yakni sekitar September 2006 roda produksi para pengusaha muda di DIY mulai bangkit kembali," katanya.
Selama proses produksi `dialihkan` ke pengusaha lain di luar DIY, menurut dia, tidak pernah ada komplain dari `buyer`. "Ini karena para pengusaha DIY yang mendapat order mengawasi langsung jalannya produksi tersebut," katanya .
Untuk produksi pesanan yang tidak bisa `dialihkan` ke pengusaha lain di luar DIY, para pengusaha di DIY memperoleh keringanan dari `buyer` berupa perpanjangan waktu sampai tiga bulan dari batas waktu untuk memenuhi pesanan itu.
"Meski ada pengertian dari buyer dengan penundaan sampai tiga bulan, tetapi jika setelah tiga bulan tidak bisa memenuhi pesanan, buyer akan memutus kontrak atau perjanjian pemesanan," kata dia.
Iwan Kurniawan juga menceritakan, setelah gempa pihaknya mendata para anggota HIPMI DIY yang terkena dampak bencana itu. Kemudian HIPMI DIY mengumpulkan jaringan para pengusaha muda di provinsi ini untuk mengetahui kondisi masing-masing.
Menurut dia, selain bekerjasama dengan kalangan pengusaha di luar DIY, produksi pengusaha muda DIY dapat bangkit kembali pada pascagempa berkat bantuan modal dari lembaga donor.
"Bantuan dari lembaga donor ternyata dapat menaikkan `kelas` usaha para pengusaha muda di DIY, yaitu seperti yang sebelumnya hanya UKM (usaha kecil dan menengah) yang mengelola modal ratusan juta rupiah, naik kelasnya menjadi miliaran rupiah," katanya.
Menurut dia, semangat jiwa muda para anggota HIPMI DIY dalam berjuang untuk bangkit pada pascagempa ini, telah menumbuhkan kepercayaan para donor, sehingga bantuan modal itu berlanjut sampai sekarang. "Bahkan sekarang ada di antara mereka yang bisa membuka cabang usaha sejenis di luar DIY, antara lain di Jambi," kata Iwan. Ia menyebutkan selama pascagempa HIPMI DIY hanya mengeluarkan dana sekitar Rp100 juta untuk membantu para anggotanya. "Sementara dana lain yang diperoleh mereka berasal dari jaringan donatur yang ada," katanya. (*/rit)