"Harga memang cenderung terus menguat. Tapi saat ini sudah tidak ada barang, baik di petani maupun di pedagang," ungkap Sekretaris Eksekutif Asosisiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jatim, Ichwan Nursidik, di Surabaya, Senin.
Menurut dia, harga kopi dalam dua tahun terakhir cenderung menguat. Bahkan, di pasar lokal kenaikannya justru lebih tinggi dibandingkan harga di pasar ekspor.
Harga kopi robusta asalan di pasar lokal Jatim saat ini sekitar Rp15,5 per kilogram, dan kopi arabika berkisar Rp19 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Sedangkan di pasar ekspor harga kopi robusta di bursa London sekitar 1,5 dolar AS per kilogram dan kopi arabika 2,63 dolar AS per kilogram di pasar New York.
Meski stok kini sudah habis, tapi ekspor kopi Jatim pada 2006 relatif stabil. Ekspor kopi Jatim pada 2006 mencapai 63.544 ton atau turun sekitar tujuh persen dibandingkan ekspor 2005 yang mencapai 68.228 ton.
Namun, dari nilai, ekspor kopi Jatim mengalami peningkatan sebesar 19 persen dari 78.897 ribu dolar AS pada 2005 menjadi 95.349 ribu dolar AS pada 2006.
Mengenai ekspor kopi Jatim pada 2007, ia memperkirakan akan relatif stagnan, berkisar 50-60 ribu ton. Sebab, diprediksi produksi kopi Jatim dan juga sentra kopi yang biasa memasok kopi ke Jatim, kurang bagus akibat cuaca dan iklim yang "kacau".
"Tahun lalu, curah hujan cukup tinggi, sedangkan tahun ini diperkirakan kemarau cukup panjang. Jadi, produksi kopi tidak bisa optimal," katanya seraya menambahkan bahwa produksi kopi Jatim pada 2006 sebanyak 38 ribu ton, sedangkan tahun ini diperkirakan pada kisaran 34-40 ribu ton. (*/rit)