< >

Salahi Prosedur, PM Horta Ditolak Melintas Batas

Selasa, 23 Januari 2007 08:17
Kapanlagi.com - Perdana Menteri (PM) Timor Leste, Ramos Horta, beserta rombongan berjumlah 40 orang yang diangkut memakai belasan kendaraan roda empat dengan keperluan kunjungan kerja ke Distrikn Oecussi, ditolak melintas Pos Utama Perbatasan Mota Ain, Senin (22/1), karena dinilai menyalahi prosedur perizinan.

Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan TNI Republik Indonesia-Timor Leste (RDTL), Letnan Kolonel Infantri Hotman Hutahaean, menyatakan kepada Antara, "Kami tidak bisa melalukan PM Horta dan rombongan begitu saja, karena beliau ini 'kan orang sangat penting alias VVIP. Dalam suratnya kepada Duta Besar RI di Dili, dinyatakan rombongan cuma delapan namun kenyataannya 40 orang dengan empat kendaraan."

Hutahaean menyatakan, sesuai dengan kewenangannya sebagai pemegang otoritas pengamanan wilayah perbatasan RI-RDTL, dirinya merasa wajib mengamankan perjalanan darat Horta dan rombongan, karena Horta adalah kepala pemerintahan yang harus diperlakukan sebagai rombongan VVIP.

Untuk itu, batalion pengamanan perbatasan yang dia pimpin telah menyiapkan satu tim terdiri dari 15 personel untuk melakukan tugas pengawalan itu sejak dari Mota Ain, Kabupaten Belu, hingga di Pintu Perbatasan Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Dalam peristiwa penolakan pelintasan Horta ini, Hutahaean mengungkapkan, ada lima hal yang tidak bisa diamini begitu saja.

"Dalam kesepakatan yang dicapai pekan lalu, disetujui jumlah rombongan cuma delapan orang, kendaraannya empat, dan mereka boleh membawa tujuh pucuk pistol. Semuanya tidak cocok, malahan cuma dua yang nomor senjatanya sesuai dengan manifest yang kami dapat."

Selain itu, katanya, waktu pelintasannya juga sudah salah. "'Liaison officer' mereka mencoba mengajukan izin lisan untuk melintas di Mota Ain pada pukul 16.45 WITA. Padahal mereka sudah tahu bahwa pintu pos di kedua pihak selalu tutup pukul 16.00 WITA. Jadi, petugas imigrasi dan sebagainya sudah tidak ada lagi," katanya.

Selain itu, katanya, jumlah kendaraan roda empat yang diajukan dalam izin tertulis tempo hari berjumlah empat unit. Namun kenyataanya, pada saat mereka mencoba melintas di Mota Ain hari ini, jumlah itu membengkak hingga 17 unit.

"Banyak di antara kendaraan itu yang tidak masuk dalam daftar yang diajukan," katanya.

Demikian pula, katanya, rombongan Horta itu baru diizinkan melintas pada Selasa (23/1) pukul 08.00 WITA dan berdasarkan izin yang diberikan pemerintah, mereka harus pulang hari itu juga dari Distrik Oecusssi sebelum pukul 16.00 WIB.

Perjalanan darat Mota Ain-Wini, dalam kecepatan normal bisa ditempuh dalam waktu sekitar 90 menit. "Mungkin karena mereka merasa sadar akan sejumlah ketidakcocokan itu, mereka membatalkan perjalanan itu hari ini dan baru dilakukan besok," katanya.

Di dalam manifest rombongan yang diterima Antara, tercatat nama-nama itu adalah Nelson IG Esposto, Isolano da Costa, Natalina Gusmao d Jesus, Floriberto Marcal, Juvinal Mendoca, Mario Hendriques, Carlos Manuel C Nunez, dan Ramos Horta.

Dari rombongan yang tiba di Mota Ain hari ini puluhan yang lain tidak pernah didaftarkan atau diinformasikan secara lisan sebelumnya kepada petugas-petugas yang berwenang dari pihak Indonesia.

Sementara itu, Duta Besar RI di Dili, Ahmed B Sofwan, yang dihubungi melalui telefonnya, menyatakan, sejauh ini pihak Horta memahami alasan penolakan pelintasan itu dengan pertimbangan jaminan keamanan dan prosedur administrasi yang harus dipatuhi mereka.

"Mereka bisa mengerti. Akhirnya kami sepakati, perlintasan itu baru dilakukan Selasa besok pukul 08.00 WITA. Semua bentuk kesepakatan sebelumnya pasti Indonesia lakukan, termasuk pengamanan selama Horta berada di wilayah Indonesia," katanya.

Dia menyatakan, permohonan dari pemerintah Timor Leste tentang hal ini telah tiba di mejanya sejak pekan lalu yang sesudah itu itu langsung dibuat sejumlah kesepakatan, dan hasilnya ditembuskan ke semua pihak yang berkepentingan.

"Di antaranya kepada batalion pengamanan perbatasan kita. Itu kewenangan mereka," katanya. (*/bun)