Kepala Bagian Sosial pada pemkab Aceh Tamiang Basyaruddin di Kuala Simpang, Selasa, menyebutkan bahwa mereka bertahan di tenda-tenda darurat karena rumahnya mengalami rusak akibat diterjang banjir.
Sampai tanggal 23 Januari 2007, korban banjir yang masih bertahan di tenda-tenda darurat itu tersebar pada 179 titik, namun pengungsi terbanyak saat ini berada dalam wilayah Kecamatan Kota Kuala Simpang, sekitar 470 KM sebelah timur Banda Aceh.
Menurut Basyaruddin, pengungsi yang masih bertahan saat ini sudah jauh berkurang dibandingkan dua sepakan lalu hampir 15.000 KK, setelah sebagian mereka membersihkan kembali rumahnya dari kotoran lumpur dan sampah terbawa arus banjir.
"Yang masih bertahan di tenda saat ini adalah pengungsi parmanen karena mereka tidak memiliki lagi rumah tempat tinggal," tambahnya.
Pemerintah belum terpikirkan untuk membangun kembali rumah bagi para korban banjir di Aceh Tamiang karena tidak memiliki dana, kecuali melakukan pendekatan dengan pihak Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias.
Menurut Basyaruddin, rumah penduduk yang rusak/hancur saat banjir bandang lalu seluruhnya mencapai 2.600 unit, terdiri atas 2.303 hancur total, 18.747 rusak berat serta 14.950 unit lainnya mengalami rusak ringan.
Bangunan lain yang rusak meliputi rumah ibadah/masjid 60 unit, gedung sekolah SD/MI 108 unit, SMP/MTs 35 unit dan SMA/MA sebanyak 21 unit, namun angka kerugian akibat banjir bandang lalu belum dipublikasikan.
Menyinggung tentang persediaan logistik bagi mereka yang masih bertahan mengungsi di tenda darurat, ia menyebutkan hingga saat ini tersedia cukup karena posisi stok beras saat ini diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan untuk dua atau tiga bulan mendatang.
"Kalau persediaan dan suplai kebutuhan pokok cukup lancar, namun yang ada kepastian dibangun kembali terhadap rumah-rumah masyarakat yang rusak dan hanyut saat banjir lalu," demikian Basyaruddin. (*/rsd)