< >

Kawasan Perkotaan Menanggung Beban Ganda Penyakit

Selasa, 23 Januari 2007 18:54
Kapanlagi.com - Selain harus menanggung beban akibat penyakit infeksi, masyarakat dan pemangku kepentingan di kawasan perkotaan juga harus menanggung tambahan beban akibat peningkatan angka kejadian penyakit tidak menular dan degeneratif.

Hal itu terungkap dari hasil penelitian Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang dipaparkan, di Jakarta, Selasa (23/1).

Menurut penelitian yang dilakukan di lima wilayah DKI Jakarta selama 2006, angka kejadian beberapa penyakit perkotaan seperti anemia, gangguan psikosomatik, gangguan muskuloskeletal, gangguan kadar asam urat dan hiperurisemia, diabetes melitus, sindroma metabolik, gangguan saluran cerna dan dispepsia serta obesitas cukup tinggi.

Salah satu anggota tim peneliti, Yoga I Kasjmir dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, menyebutkan angka kejadian (prevalensi) anemia di wilayah perkotaan tersebut sebesar 7,4%.

"Jumlah responden dengan kadar feritin (zat besi-red) rendah cukup banyak, sebanyak 32,7%," ujarnya.

Ia menambahkan pula bahwa menurut hasil penelitian tersebut angka kejadian gangguan psikosomatik di wilayah Jakarta juga cukup tinggi.

Menurut dia, angka kejadian gangguan psikosomatik yang berupa depresi sebesar 28,4% dan anksietas (kekhawatiran) sebesar 39,8%.

Prevalensi gangguan nyeri muskuloskeletal yang mengganggu aktifitas, menurut dia, juga merupakan gangguan yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar responden.

Dari 1.645 responden laki-laki dan perempuan yang diteliti, ia menjelaskan, sebanyak 66,9% diantaranya pernah mengalami nyeri sendi. "Gangguan itu utamanya terjadi pada populasi kelompok umur 45 tahun ke atas dengan kelebihan berat badan," tambahnya.

Ia menjelaskan pula bahwa rata-rata kadar asam urat, yang sering dihubungkan dengan nyeri sendi, penduduk DKI Jakarta sekitar 6,067 mg/dl (laki-laki) dan sekitar 4,616 mg/dl (perempuan).

Selain itu dijelaskan pula bahwa prevalensi prediabetes pada populasi umum berusia 25-64 tahun di DKI Jakarta sebesar 24,91%.

Semua hasil penelitian surveilans tersebut, menurut anggota tim peneliti Prof. Dr. dr Harry Isbagio, SpPD-KR, selanjutnya akan disampaikan kepada pemerintah supaya bisa menjadi bahan masukan dalam penyusunan program pembangunan kesehatan.

"Harapannya, ini bisa menjadi masukan untuk menyusun strategi pencegahan dan penanggulangan penyakit di kawasan perkotaan," demikian Prof. Harry. (*/bun)